Ketika Sepak Bola Eropa Mulai Berbau Bisnis Ala Amerika
Baca dalam 60 detik
- Lebih dari 40 klub Eropa kini dimiliki investor AS, termasuk Arsenal, Inter Milan, dan Manchester United.
- Model kepemilikan ala Amerika yang mengutamakan keuntungan berbenturan dengan tradisi promosi-degradasi Eropa.
- Liga MX di Meksiko berpotensi menjadi liga pertama yang sepenuhnya mengadopsi sistem waralaba tetap tanpa degradasi.

Investor asal Amerika Serikat kini menguasai lebih dari 40 klub sepak bola Eropa, termasuk raksasa seperti Arsenal, Inter Milan, Manchester United, dan Liverpool. Fenomena ini menandai pergeseran besar dalam kepemilikan klub, dari model tradisional Eropa yang mengedepankan pengabdian lokal menuju pendekatan bisnis ala Amerika yang berorientasi keuntungan.
Menurut data yang dihimpun para peneliti, saat ini terdapat 11 kelompok kepemilikan AS di Liga Primer Inggris. Mereka tidak hanya menguasai klub sepak bola, tetapi juga memiliki enam tim NFL, empat tim NBA, dua waralaba MLB, dan empat klub NHL. Stan Kroenke, pemilik Arsenal, juga memiliki Los Angeles Rams, Denver Nuggets, dan Colorado Avalanche. Konsentrasi kepemilikan ini memicu kekhawatiran di kalangan penggemar tradisional bahwa sepak bola Eropa perlahan kehilangan jati dirinya.
Perbedaan mendasar antara model AS dan Eropa terletak pada struktur liga. Di Amerika, liga bersifat tertutup dengan waralaba tetap yang tidak bisa terdegradasi, sementara Eropa menganut sistem piramida dengan promosi dan degradasi. Sistem piramida ini menciptakan drama dan ketegangan sepanjang musim, namun juga membuat nilai klub bisa anjlok drastis jika terdegradasi. Burnley dan West Ham, yang memiliki investasi AS signifikan, baru-baru ini terdegradasi ke divisi kedua, menghancurkan anggaran dan valuasi mereka.
Kekhawatiran akan kerugian finansial mendorong pemilik AS untuk melobi perubahan. Pada April 2021, rencana pembentukan European Super League (ESL) yang bersifat tertutup—tanpa degradasi—muncul dengan dukungan finansial JPMorgan sebesar 4 miliar dolar AS. Empat dari enam klub pendiri ESL—AC Milan, Arsenal, Liverpool, dan Manchester United—dimiliki oleh investor AS. Namun, protes keras dari penggemar, pelatih, dan mantan pemain memaksa keenam klub Inggris mundur dalam waktu 72 jam.
Meski upaya menciptakan liga tertutup di Eropa gagal, pengaruh AS tetap merembes melalui perubahan-perubahan kecil seperti pertunjukan paruh waktu, pemandu sorak, dan eksperimen aturan offside baru yang diyakini akan meningkatkan jumlah gol dan menguntungkan klub kaya. Todd Boehly, pemilik Chelsea, bahkan mendorong Liga Primer Inggris untuk mengadopsi pertandingan all-star dan babak playoff ala Amerika demi meningkatkan pendapatan—sebuah langkah yang dinilai banyak pihak sebagai bentuk kepentingan pribadi mengingat Chelsea mencatat kerugian pra-pajak sebesar 349 juta dolar AS pada musim 2024-2025.
Sementara itu, investor AS mulai mengalihkan perhatian ke Meksiko. Liga MX, yang jumlah penonton televisinya di AS melebihi gabungan Liga Primer Inggris dan MLS, telah menangguhkan degradasi sejak 2020 akibat pandemi COVID-19. Lima dari 18 klub Liga MX kini dimiliki oleh investor AS, dan kembalinya sistem degradasi tampak semakin tidak mungkin. Rob Mac, aktor Hollywood yang juga memiliki saham di Necaxa, secara terbuka meragukan sistem piramida di Meksiko dengan alasan potensi fluktuasi nilai klub.
Jika Liga MX benar-benar beralih ke model waralaba tetap, liga tersebut akan menjadi yang pertama di dunia yang meninggalkan sistem promosi-degradasi secara penuh. Langkah ini bisa menjadi preseden bagi liga lain di kawasan Amerika Latin dan bahkan Eropa. Pertanyaannya, sejauh mana penggemar sepak bola global akan menerima transformasi ini? Ataukah semangat kompetisi yang terbuka dan penuh kejutan akan tetap menjadi jiwa dari olahraga yang paling populer di dunia?



