Polisi Vietnam Bongkar Pabrik Senjata Ilegal di Balik Bengkel Sipil
Baca dalam 60 detik
- Penggerebekan dua bengkel mesin di Ho Chi Minh City dan Dong Nai mengungkap produksi massal komponen senapan angin PCP yang dijual ke dalam dan luar negeri.
- Jaringan ini telah beroperasi sejak 2023 dengan peralatan CNC modern dan sistem kamera pengawas untuk menghindari deteksi.
- Pengembangan kasus ini menunjukkan rantai pasok senjata ilegal yang terintegrasi dari produksi hingga distribusi di Vietnam.

Kepolisian Provinsi Ha Tinh, Vietnam, membongkar dua fasilitas manufaktur senjata ilegal skala besar yang beroperasi di bawah kedok bengkel mekanik sipil di Ho Chi Minh City dan Dong Nai. Penggerebekan pada awal Juni 2026 ini merupakan perluasan penyelidikan terhadap jaringan produksi dan perdagangan senjata api yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Sebanyak 60 personel dikerahkan dalam tiga satuan tugas untuk menggerebek kedua lokasi secara bersamaan. Menurut penyidik, bengkel-bengkel tersebut tidak memiliki papan nama atau iklan, namun dilengkapi mesin CNC (Computer Numerical Control) modern untuk milling dan turning, serta sistem kamera pengawas ekstensif yang dirancang untuk menghindari deteksi. Polisi menyita 178 rangka senapan angin PCP jadi, 113 magazen amunisi, 300 blanko paduan aluminium, ratusan komponen perakitan senjata, empat mesin CNC milling, satu mesin bubut CNC, dua komputer desktop, dan barang bukti lainnya.
Polisi memanggil sejumlah individu untuk diperiksa, termasuk Vu Manh Quyet (1987) yang diduga pemilik bengkel mekanik di Dong Nai, dan Nguyen Cong Quy (1994) dari Provinsi Lam Dong. Temuan awal menunjukkan para tersangka menyewa tempat industri dan berinvestasi pada peralatan permesinan canggih untuk memproduksi komponen senapan angin PCP, yang kemudian dipasok ke distributor di Vietnam dan luar negeri. Quyet diduga memulai operasi produksi pada 2023 dengan memasang mesin CNC untuk membuat komponen senjata. Produknya dijual kepada pembeli domestik dan asing melalui ribuan pesanan selama beberapa tahun.
Penyidik menggambarkan operasi ini sangat terorganisir dan mandiri, menjadi sumber utama komponen senjata api bagi banyak pembeli. Polisi juga mengidentifikasi Tran Huu Trang (1997) dari Dong Nai sebagai perancang dan pembuat beberapa model rangka senapan PCP yang dikenal sebagai C1, C2, dan C3. Produk Trang diduga dipasok ke Nguyen Duc Hiep (1990), yang sebelumnya diidentifikasi sebagai pemimpin jaringan lebih besar di Provinsi Lao Cai, perbatasan utara Vietnam.
Penangkapan terbaru ini merupakan pengembangan dari penyelidikan yang dimulai setelah Polisi Ha Tinh membongkar jaringan manufaktur, penyimpanan, dan perdagangan senjata militer ilegal lainnya pada pertengahan April 2026. Dalam kasus tersebut, otoritas telah mengajukan tuntutan terhadap sembilan tersangka.
Fenomena produksi senjata ilegal di Vietnam menjadi perhatian serius, mengingat negara tersebut memiliki regulasi ketat terhadap kepemilikan senjata api. Penggunaan mesin CNC modern menunjukkan peningkatan kecanggihan jaringan kriminal, yang dapat menjadi ancaman tidak hanya bagi keamanan domestik tetapi juga regional. Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya pengawasan terhadap bengkel mekanik yang berpotensi disalahgunakan untuk produksi senjata ilegal, mengingat rantai pasok regional yang rentan. Pertanyaan yang muncul: sejauh mana jaringan ini telah merambah negara-negara tetangga, termasuk Indonesia?



