Christian Eriksen Kembali Kolaps di Lapangan, Tim Medis Pastikan Kondisinya Stabil
Baca dalam 60 detik
- Gelandang VfL Wolfsburg, Christian Eriksen, pingsan saat laga persahabatan Denmark vs Ukraina, namun dilaporkan sadar dan berjalan sendiri.
- Peristiwa ini memicu kekhawatiran publik mengingat riwayat serangan jantung Eriksen di Euro 2020 yang membuatnya dipasangi alat pacu jantung.
- Dokter tim Denmark menyatakan alat pacu jantung berfungsi normal, namun Eriksen tetap menjalani pemeriksaan lebih lanjut di rumah sakit.

Christian Eriksen kembali menjadi sorotan dunia sepak bola setelah mengalami kolaps di menit ke-65 laga persahabatan antara Denmark dan Ukraina, Rabu (5/6) dini hari WIB. Pemain berusia 34 tahun itu sempat kehilangan kesadaran, namun tim medis segera memberikan pertolongan dan ia mampu berjalan keluar lapangan dengan bantuan. Pertandingan pun dihentikan.
Insiden ini mengingatkan publik pada tragedi di Euro 2020, ketika Eriksen mengalami henti jantung saat Denmark menghadapi Finlandia. Kala itu, ia berhasil diselamatkan berkat resusitasi cepat dan kemudian dipasangi Implantable Cardioverter Defibrillator (ICD), sebuah alat pacu jantung khusus. Dokter tim Denmark, Morten Boesen, mengonfirmasi bahwa alat tersebut merespons dengan baik saat kejadian terbaru. "Christian baik-baik saja dan berjalan keluar sendiri. Menurut saya, alat pacu jantung bekerja sebagaimana mestinya. Ia sempat hilang kesadaran sebentar, tapi cepat sadar kembali," ujar Boesen dalam pernyataan resmi.
Meski kondisi Eriksen dilaporkan stabil, ia tetap menjalani serangkaian tes di rumah sakit untuk mencari tahu penyebab pasti kolaps. Boesen menambahkan, "Sekarang ia perlu diperiksa lebih lanjut untuk mengetahui apa yang memicu insiden ini. Kami terus berkomunikasi dengan Eriksen dan dokter di rumah sakit. Ia meminta saya menyampaikan kepada rekan-rekan pemain bahwa ia baik-baik saja."
Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, kabar ini tentu membawa kekhawatiran tersendiri. Eriksen adalah salah satu pemain yang dikenal tangguh secara mental, mampu kembali ke level tertinggi setelah insiden jantung sebelumnya. Namun, kejadian berulang ini menimbulkan pertanyaan tentang batas keamanan bagi atlet dengan riwayat kondisi medis serius. Di Indonesia sendiri, kesadaran akan pentingnya pemeriksaan jantung pada atlet masih terus didorong, terutama setelah beberapa kasus kematian mendadak di lapangan hijau.
Dokter spesialis jantung olahraga, dr. Andika Widyanto, Sp.JP, menilai bahwa kasus Eriksen menjadi pengingat bahwa ICD bukanlah jaminan mutlak. "ICD memang dirancang untuk memberikan kejutan listrik saat detak jantung abnormal, tetapi tetap ada kemungkinan kejadian lain yang memicu kolaps. Pemeriksaan berkala sangat penting," jelasnya saat dihubungi terpisah.
Ke depan, publik menanti hasil pemeriksaan Eriksen dan keputusan apakah ia bisa melanjutkan karier profesionalnya. VfL Wolfsburg dan Federasi Sepak Bola Denmark (DBU) dipastikan akan memberikan dukungan penuh. Pertanyaan besarnya, akankah Eriksen kembali mengenakan seragam Denmark di turnamen besar berikutnya, atau justru ini menjadi titik akhir perjalanan kariernya?



