Serhou Guirassy Akui Ketertinggalan dari Harry Kane: 17 Gol Belum Cukup
Baca dalam 60 detik
- Penyerang Borussia Dortmund Serhou Guirassy mencatat 17 gol Bundesliga musim 2025/26, terpaut jauh dari Harry Kane (36 gol) dan Deniz Undav (19 gol).
- Guirassy mengakui Kane sebagai penyerang terbaik liga, namun tetap menargetkan gelar top skor di masa depan meski sadar persaingan ketat.
- Pemain asal Prancis itu juga menyoroti tekanan psikologis dalam sepak bola modern, termasuk kritik pedas dari penggemar yang kerap melampaui batas.

Penyerang Borussia Dortmund, Serhou Guirassy, secara terbuka mengakui bahwa mesin gol Bayern Munich, Harry Kane, masih menjadi penyerang paling menonjol di Bundesliga musim 2025/26. Meski Guirassy sendiri mengoleksi 17 gol di kompetisi domestik, angka itu masih jauh di bawah torehan Kane yang mencapai 36 gol, serta mantan rekan setimnya di VfB Stuttgart, Deniz Undav, yang mengemas 19 gol.
Dalam wawancara eksklusif dengan majalah resmi Bundesliga, pemain berusia 30 tahun itu merefleksikan musimnya yang ia nilai belum maksimal. Ia juga menambahkan empat gol di Liga Champions dan satu gol di DFB-Pokal, namun untuk pertama kalinya dalam tiga musim terakhir ia gagal menembus 30 gol di semua kompetisi. “Saya selalu ingin lebih. 17 gol bagi saya belum cukup,” ujar Guirassy, menegaskan bahwa rasa haus akan gol tidak pernah padam.
Guirassy tidak menampik kehebatan Kane. “Kadang ada pemain yang lebih baik, Anda harus jujur. Harry Kane mencetak gol dengan kecepatan luar biasa. Bayern sudah sangat kuat di lini depan dengan Luis Díaz dan Michael Olise. Saya hanya berusaha mengimbangi mereka,” katanya. Meski demikian, ia tetap bermimpi meraih sepatu emas Bundesliga suatu hari nanti, sebuah ambisi yang ia akui tidak mudah diwujudkan.
Selain soal gol, Guirassy juga menyoroti aspek psikologis dalam sepak bola profesional. Ia mengaku sempat mengalami paceklik gol selama tujuh pertandingan beruntun di Bundesliga, yang jelas memengaruhi kepercayaan dirinya. “Itu masa sulit. Tapi Anda harus terus bekerja dan berharap. Segalanya akan berubah,” tuturnya. Ia juga mengecam perilaku penggemar di media sosial yang kerap melontarkan hinaan kepada pemain. “Kritik itu wajar, tapi hinaan tidak. Kami hanyalah manusia biasa,” tegasnya.
Bagi pembaca di Indonesia, kisah Guirassy menjadi pengingat bahwa tekanan di sepak bola Eropa sangat tinggi, bahkan bagi pemain yang sudah mapan. Fenomena ini relevan dengan perkembangan sepak bola nasional, di mana pemain muda Indonesia yang berkarier di luar negeri juga harus siap menghadapi ekspektasi tinggi dan kritik publik. Regulasi dan budaya pendukung yang sehat menjadi kunci agar pemain tidak terbebani secara mental.
Menatap musim depan, Guirassy bertekad meningkatkan produktivitasnya. Dengan dukungan bek sayap Julian Ryerson yang mencatat 15 assist musim lalu, ia optimistis bisa bersaing lebih ketat. Pertanyaannya, mampukah ia memecah dominasi Kane dan membawa Dortmund kembali ke papan atas? Ataukah Bundesliga akan terus menjadi panggung tunggal bagi mesin gol Bayern?



