Banjir dan Longsor Landa Sinjai: Puluhan Rumah Terendam, Akses Jalan Terputus
Baca dalam 60 detik
- Hujan deras selama dua hari memicu banjir dan longsor di tiga kecamatan Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan.
- Sebanyak 21 rumah warga terdampak banjir, 60 hektar sawah terendam, dan longsor merusak pipa PDAM serta jembatan.
- BPBD masih berupaya memulihkan akses jalan dan pasokan air bersih, sementara warga mengungsi ke tempat aman.

Bencana banjir dan tanah longsor yang dipicu hujan dengan intensitas sedang hingga lebat melanda Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, sejak Rabu (3/6) hingga Kamis (4/6). Tiga kecamatan terdampak langsung, dan hingga Minggu (7/6) sejumlah akses jalan serta infrastruktur masih terputus.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan bahwa hujan yang terus-menerus mengguyur wilayah tersebut menyebabkan tanah menjadi labil. Kondisi ini memicu longsor di beberapa titik, terutama di daerah perbukitan. “Bencana ini dipicu hujan dengan intensitas sedang dan lebat. Kondisi diperparah oleh tanah yang labil sehingga memicu longsor di beberapa lokasi,” ujarnya dalam keterangan resmi, Minggu (7/6).
Banjir melanda Kecamatan Sinjai Timur, Sinjai Utara, dan Tellu Limpoe. Di Kecamatan Sinjai Timur, desa-desa seperti Panaikang, Lasiai, Saukang, dan Sanjai menjadi wilayah yang paling parah terkena longsor. Sementara itu, di Kecamatan Tellu Limpoe, Desa Bua dan Lembang Lohe juga mengalami longsor. Desa Tompobulu di Kecamatan Bulupoddo, serta Desa Aska dan Kelurahan Biringere di Kecamatan Sinjai Selatan, turut terdampak. Kelurahan Lamatti Rilau di Kecamatan Sinjai Utara juga dilaporkan terkena longsor.
Akibat banjir, selain rumah warga, lahan pertanian seluas 60 hektar terendam dan dua ekor kuda mati tenggelam. Sebanyak 11 ruas jalan, enam unit perkantoran, satu fasilitas umum, dan dua fasilitas pendidikan ikut terdampak. Meski banjir telah surut pada Kamis (4/6), akses jalan penghubung antara Desa Sukamaju dan Erabaru di Kecamatan Tellu Limpoe masih terputus hingga akhir pekan.
Longsor juga menyebabkan kerusakan pada tujuh rumah warga, satu hektar lahan persawahan, satu jembatan, dan enam ruas jalan penghubung antardesa. Yang lebih krusial, pipa Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) putus, sehingga pasokan air bersih ke Dusun Waetuo terganggu. “Material longsor masih menutupi sebagian badan jalan, namun masih dapat dilalui kendaraan roda empat. Perbaikan pipa PDAM yang rusak masih terus diupayakan,” kata Muhari.
Beruntung, bencana ini tidak menimbulkan korban jiwa. Namun, sejumlah warga terpaksa mengungsi karena rumah mereka tidak dapat dihuni. BPBD setempat terus melakukan pendataan dan evakuasi, sementara upaya pemulihan infrastruktur, terutama akses jalan dan jaringan air bersih, menjadi prioritas. Pertanyaan yang mengemuka: seberapa cepat pemerintah daerah dapat memulihkan akses dan memastikan kebutuhan dasar warga terpenuhi di tengah ancaman cuaca ekstrem yang masih mungkin terjadi?



