Kebakaran Hutan Eropa: 267.000 Jiwa Mengungsi, Prancis dan Spanyol Kewalahan
Baca dalam 60 detik
- Gelombang panas ekstrem memicu kebakaran hutan di Prancis dan Spanyol, memaksa lebih dari seperempat juta orang mengungsi dalam evakuasi terbesar di masa damai.
- Prancis mengerahkan 1.000 tentara dan pesawat pemadam kebakaran, sementara Spanyol mengandalkan bantuan Uni Eropa untuk menjinakkan api yang mendekati Madrid.
- Para ahli memperingatkan bahwa perubahan iklim memperparah frekuensi dan intensitas bencana serupa, termasuk di Indonesia yang rentan terhadap kebakaran lahan.

Lebih dari 267.000 orang di Prancis dan Spanyol terpaksa meninggalkan rumah mereka akhir pekan ini akibat kebakaran hutan yang tak terkendali, menjadikannya salah satu evakuasi terbesar dalam sejarah Eropa modern.
Di Prancis, sekitar 197.000 jiwa diungsikan dari kawasan wisata di sekitar Bordeauxโsebuah rekor evakuasi di masa damai, menurut Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez. Sementara itu, di Spanyol, 70.000 penduduk desa di barat Madrid mengungsi setelah kobaran api melalap 25.000 hektare lahan. Perdana Menteri Pedro Sanchez menegaskan prioritas utama adalah menyelamatkan jiwa.
Petugas pemadam kebakaran di kedua negara kewalahan melawan api yang terus merambat akibat gelombang panas beruntun sejak Mei. Meski belum ada korban jiwa dari warga sipil, dua petugas pemadam Prancis tewas di dekat Bordeaux. Otoritas setempat mengakui intensitas api telah sedikit menurun, tetapi angin kencang yang tak menentu masih menjadi ancaman.
Untuk memperkuat upaya pemadaman, Prancis mengerahkan 1.000 personel militer serta sebuah pesawat A400M yang mampu menjatuhkan 20 ton bahan pemadam api. Uni Eropa juga mengirimkan pesawat pemadam dari negara anggota. Di Spanyol, dua dari tiga titik api besar di barat Madrid telah bergabung dan mengancam membentuk kobaran raksasa yang hanya berjarak beberapa kilometer dari ibu kota.
Para ilmuwan menegaskan bahwa perubahan iklim memperparah kondisi kekeringan dan membuat cuaca ekstrem semakin sering terjadi. Eropa menjadi benua dengan laju pemanasan tercepat di dunia. Fenomena ini tidak hanya mengancam kawasan Atlantik, tetapi juga menjadi peringatan bagi Indonesia yang setiap tahun menghadapi kebakaran hutan dan lahan akibat musim kemarau panjang.
Kisah para pengungsi menggambarkan kepanikan yang melanda. Jacqueline Villafranca, seorang ibu asal Peru yang mengungsi ke Madrid bersama keluarganya, mengaku ketakutan rumahnya akan ludes terbakar. 'Kemarin tidak tertahankan, di sini kami bisa bernapas normal,' ujarnya dari tempat penampungan darurat. Sementara itu, Nuala Kelly, wisatawan asal Irlandia berusia 75 tahun, mengatakan belum pernah mengalami kejadian separah ini sepanjang perjalanannya keliling dunia.
Pemerintah Prancis telah menggelar rapat krisis kedua dalam dua hari, sementara Spanyol meningkatkan kewaspadaan. Menteri Dalam Negeri Prancis, Laurent Nunez, mengatakan bahwa api di Gironde tidak lagi bersifat konvektif, namun ancaman masih ada. 'Kami menghadapi jam-jam yang kompleks ke depan, karena angin bisa berubah sewaktu-waktu,' peringatkan Sanchez.
Kebakaran ini menjadi ujian bagi kesiapsiagaan Eropa terhadap bencana iklim. Pertanyaan besarnya: sejauh mana negara-negara lain, termasuk Indonesia, mampu belajar dari kejadian ini untuk memperkuat mitigasi bencana dan mengurangi emisi gas rumah kaca? Tanpa langkah konkret, ancaman kebakaran serupa akan terus menghantui.


