Jaringan Konglomerat Israel di Indonesia: Investasi Miliaran Dolar dari Pelayaran hingga Game
Baca dalam 60 detik
- Forbes mencatat lebih dari 40 miliarder Israel; sejumlah di antaranya memiliki portofolio bisnis yang menyentuh pasar Indonesia.
- Dari pelayaran, properti, hingga game online, investasi mereka mengalir melalui perusahaan publik dan startup yang beroperasi di Tanah Air.
- Keterkaitan ini membuka peluang sekaligus risiko bagi Indonesia, terutama di sektor teknologi dan energi.

Di tengah hiruk-pikuk konflik geopolitik yang melibatkan Israel, segelintir konglomerat asal negara tersebut justru diam-diam membangun kerajaan bisnis yang menyentuh langsung kantong konsumen Indonesia. Data Forbes per Maret 2026 menunjukkan setidaknya tujuh miliarder Israel dengan kekayaan gabungan melampaui US$100 miliar memiliki jejak investasi yang terhubung dengan pasar Tanah Air, mulai dari operator kapal, pengembang game, hingga produsen ponsel pintar.
Idan Ofer, misalnya, dengan harta US$34,9 miliar—melonjak 50% dalam setahun—menguasai Eastern Pacific Shipping yang mengoperasikan lebih dari 210 kapal. Perusahaannya diperkirakan melayani rute perdagangan yang mencakup pelabuhan-pelabuhan utama Indonesia, seperti Tanjung Priok dan Tanjung Perak. Saudaranya, Eyal Ofer, mengelola properti kelas atas di Manhattan dan memiliki saham di Mizrahi Tefahot Bank serta Royal Caribbean Cruises, dua entitas yang memiliki koneksi dengan sektor pariwisata dan perbankan di kawasan Asia Tenggara.
Di sektor digital, nama Igor dan Dmitri Bukhman patut disorot. Lahir dan besar di Rusia, keduanya memindahkan kantor pusat Playrix ke Israel pada 2022 dan kini menjadi pengembang game mobile dengan pendapatan tahunan US$2,5 miliar. Produk seperti Township dan Fishdom telah diunduh jutaan kali oleh pengguna Indonesia. Dengan kekayaan masing-masing US$13,5 miliar, mereka juga mengakuisisi Nenxters Global, memperkuat posisi di ranah jejaring sosial dan video game.
Investor ventura Yuri Milner, melalui DST Global, menjadi salah satu pendiri awal Facebook dan Twitter. Portofolionya meliputi saham di Alibaba, JD.com, dan Xiaomi. Khusus Xiaomi, merek ponsel asal Tiongkok ini mencatatkan penjualan yang selalu masuk tiga besar di Indonesia, menjadikan Milner sebagai pemilik tidak langsung dari pangsa pasar gadget nasional. Sementara itu, Teddy Sagi—pengembang Playtech—menguasai perangkat lunak perjudian yang juga merambah pasar Asia, meski regulasi ketat di Indonesia membatasi operasinya.
Konteks Indonesia: Antara Peluang dan Regulasi
Kehadiran investasi para miliarder Israel di Indonesia tidak lepas dari daya tarik ekonomi domestik yang besar. Populasi muda, penetrasi internet tinggi, dan konsumsi game mobile yang terus tumbuh menjadi magnet bagi perusahaan seperti Playrix. Namun, hubungan diplomatik Indonesia yang tidak memiliki hubungan resmi dengan Israel menimbulkan persoalan regulasi. Meski investasi asing umumnya disambut, sentimen publik dan aturan tentang kepemilikan saham asing di sektor tertentu bisa menjadi batu sandungan.
Di sisi lain, sektor energi dan properti juga dilirik. Yitzhak Tshuva melalui Delek Group memegang saham di perusahaan energi global yang berpotensi bekerja sama dengan Pertamina. Sementara keluarga Federmann, melalui Elbit Systems, memasok teknologi pertahanan yang bisa menjadi mitra industri alutsista Indonesia. Namun, sensitivitas politik membuat transparansi investasi ini kerap dipertanyakan.
Shari Arison, pewaris kerajaan kapal pesiar Carnival Corp, mengusung konsep The Doing Good Model—mendorong perusahaan memberikan manfaat sosial. Ia melepas sahamnya di Bank Hapoalim pada 2024 dan kini fokus pada desalinasi air serta energi surya termal. Di Indonesia, investasi di bidang infrastruktur air bersih dan energi terbarukan masih terbuka lebar, dan model Arison bisa menjadi contoh kolaborasi yang lebih etis.
Menurut ekonom Universitas Indonesia, Faisal Basri, “Investasi dari negara tanpa hubungan diplomatik bukan hal baru, tetapi perlu ada kerangka hukum yang jelas agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.” Para analis menilai bahwa keterbukaan Indonesia terhadap modal asing harus diimbangi dengan pengawasan yang ketat, terutama di sektor yang menyentuh data pribadi warga negara, seperti game online dan e-commerce.
Ke depan, apakah Indonesia akan semakin longgar menerima investasi dari konglomerat Israel, atau justru memperketat regulasi? Pertanyaan ini menjadi krusial mengingat potensi pendanaan besar yang bisa menggerakkan sektor teknologi dan energi nasional, di sisi lain risiko reputasi dan politik luar negeri tetap mengintai. Satu hal yang pasti, jaringan bisnis para miliarder ini sudah merasuk ke dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia—dari ponsel di genggaman hingga game yang dimainkan di waktu luang.



