Hidup di Bayang-Bayang Marapi: Petani Lereng Belajar Membaca Arah Angin
Baca dalam 60 detik
- Gunung Marapi mencatat 528 erupsi sejak Desember 2023, memaksa petani lereng mengubah cara bertani dan bertahan hidup.
- Petani seperti Omniwati dan Ernis kini mengandalkan arah angin untuk memprediksi sebaran abu vulkanik, bukan lagi lari dari letusan.
- Adaptasi masih berlangsung secara individual tanpa dukungan sistem mitigasi terstruktur, sementara lahan rusak mencapai ribuan hektar.

Suara gemuruh dari puncak Gunung Marapi sudah menjadi irama keseharian bagi Omniwati, perempuan 50 tahun yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di lereng gunung aktif di Sumatera Barat. Namun, responsnya terhadap dentuman itu kini berbeda. Jika dulu letusan membuatnya buru-buru meninggalkan ladang, sekarang ia justru menengadah ke langit, membaca arah angin sebelum memutuskan tetap bekerja atau pulang.
Perubahan sikap ini lahir dari pengalaman pahit setelah erupsi besar 3 Desember 2023. Lebih dari dua tahun terakhir, Gunung Marapi tak pernah benar-benar tenang. Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat 528 kali erupsi dan 8.904 hembusan gas serta abu, dengan rata-rata hampir 20 erupsi per bulan. Abu vulkanik yang terbawa angin menjadi ancaman langsung bagi tanaman cabai, kentang, bawang, dan tomat yang menjadi sumber penghidupan warga.
Omniwati mengingat masa paling sulit setelah erupsi 2023. Pasir dan abu menutupi lahan pertanian di sejumlah kawasan, merusak tanaman yang nyaris panen. “Cabai dan wortel rontok semua. Petani tidak panen sama sekali,” katanya. Selama hampir dua tahun, ia dan suaminya terpaksa bekerja serabutan dan berutang untuk bertahan hidup. Kini, setelah gunung sedikit mereda, ia kembali menanam kentang, cabai, dan bawang di lahan sewaan seluas setengah hektare dengan biaya sewa Rp7 juta per tahun.
Beban petani tak hanya dari erupsi. Cuaca ekstrem memaksa mereka mengeluarkan biaya tambahan untuk irigasi. “Kalau tidak hujan, kami harus menyiram tanaman. Airnya beli pakai mobil tangki. Satu mobil sekitar Rp130.000, isinya dua ribu liter. Kadang bisa habis lima sampai enam mobil,” ujar Omniwati. Artinya, sekali penyiraman bisa menghabiskan hingga Rp780.000, beban berat di tengah fluktuasi harga komoditas.
Pengalaman serupa dialami Ernis, petani 65 tahun di Sungai Pua, Agam. Lahan lobaknya tertimbun abu vulkanik pada 2023, membuatnya kehilangan panen total. Butuh hampir dua tahun mengolah tanah yang tertutup material vulkanik sebelum lahan kembali normal pada 2025. Kini, dentuman Marapi tak lagi membuatnya panik. “Dulu takut kalau dengar dentuman. Sekarang sudah tidak terlalu kaget lagi,” katanya.
Penelitian yang dipublikasikan di Jurnal Pembelajaran dan Ilmu Pendidikan (JPIP) oleh Virgian Sonia Putra dan tim mengungkapkan bahwa material vulkanik tidak hanya merusak tanaman, tetapi juga mengubah tekstur, struktur, dan kemampuan tanah menyerap air. Kondisi ini berpotensi menurunkan kesuburan lahan dalam jangka panjang. Warga melakukan berbagai upaya pemulihan, mulai dari membersihkan material vulkanik, menggunakan pupuk organik, hingga menata ulang pemanfaatan lahan.
Namun, adaptasi petani masih berlangsung secara mandiri dan belum terintegrasi dalam sistem mitigasi yang terstruktur. Keterbatasan edukasi dan dukungan teknis membuat kapasitas masyarakat sangat bergantung pada pengalaman individu. Pada 30 Mei 2026, Marapi kembali erupsi dengan kolom abu setinggi 2.000 meter. Status gunung masih Level II (Waspada), dengan radius bahaya tiga kilometer dari Kawah Verbeek. PVMBG mengimbau warga mewaspadai banjir lahar dan selalu menggunakan masker saat hujan abu.
Pertanyaan yang mengemuka: akankah pemerintah daerah dan pusat mampu membangun sistem mitigasi yang tidak hanya reaktif, tetapi juga adaptif terhadap realitas petani yang setiap hari hidup berdampingan dengan ancaman erupsi? Ataukah petani lereng Marapi akan terus mengandalkan insting dan arah angin sebagai satu-satunya tameng?



