Kebakaran Mematikan di Hong Kong: Dua Perusahaan dan Tujuh Individu Didakwa Pembunuhan
Baca dalam 60 detik
- Otoritas Hong Kong menjerat dua perusahaan dan tujuh individu dengan 25 dakwaan, termasuk pembunuhan dan penipuan, terkait kebakaran kompleks Wang Fuk yang menewaskan 168 orang.
- Kebakaran November lalu itu menjadi yang paling mematikan dalam 70 tahun terakhir di Hong Kong, memicu penyelidikan besar-besaran oleh kepolisian dan komisi anti-korupsi.
- Kasus ini menyoroti lemahnya pengawasan keselamatan konstruksi di kawasan padat penduduk, menjadi peringatan bagi negara berkembang seperti Indonesia yang rawan bencana serupa.

Otoritas Hong Kong secara resmi mendakwa dua perusahaan konstruksi dan tujuh individu dengan 25 tuduhan, termasuk pembunuhan (manslaughter), konspirasi penipuan, upaya menghalangi proses peradilan, dan penggelapan pajak, terkait kebakaran dahsyat di kompleks perumahan Wang Fuk pada November lalu. Peristiwa yang menewaskan 168 orang ini tercatat sebagai kebakaran paling mematikan di kota tersebut dalam lebih dari tujuh dekade.
Perusahaan yang didakwa meliputi firma konsultan proyek dan kontraktor utama renovasi kompleks tersebut. Individu yang terjerat termasuk direktur kedua perusahaan serta seorang inspektur terdaftar dari firma konsultan. Meski demikian, pihak berwenang belum mengungkapkan identitas mereka secara publik. Langkah ini diambil setelah penyelidikan panjang yang melibatkan kepolisian dan Komisi Independen Anti-Korupsi Hong Kong (ICAC).
Sejak kebakaran terjadi, ICAC telah menangkap dua direktur Will Power Architects, firma konsultan teknik struktur pengembangan tersebut. Hingga Maret tahun ini, kepolisian melaporkan telah menahan 38 orang terkait dugaan pembunuhan dan penipuan. Secara terpisah, ICAC juga mengamankan 23 orang lainnya, termasuk konsultan, kontraktor, dan anggota korporasi pemilik kompleks. Laporan sebelumnya menyebut Prestige Construction and Engineering Company sebagai kontraktor terdaftar untuk renovasi.
Kasus ini menyoroti celah serius dalam pengawasan keselamatan konstruksi di Hong Kong, terutama pada proyek renovasi bangunan tua. Para ahli menilai bahwa lemahnya regulasi dan pengawasan memungkinkan praktik-praktik berbahaya, seperti penggunaan material mudah terbakar dan pengabaian standar keselamatan kebakaran. βIni adalah tragedi yang seharusnya bisa dicegah jika ada kepatuhan ketat terhadap kode bangunan,β ujar seorang analis keselamatan konstruksi yang enggan disebut namanya.
Bagi Indonesia, tragedi ini menjadi pengingat pentingnya pengawasan ketat terhadap proyek konstruksi, terutama di kota-kota besar dengan kepadatan tinggi seperti Jakarta. Praktik subkontraktor yang tidak bertanggung jawab dan korupsi dalam perizinan sering kali menjadi pemicu kecelakaan serupa. Kasus kebakaran di pusat perbelanjaan atau apartemen di Indonesia, seperti kebakaran Pasar Senen atau mal di Surabaya, menunjukkan bahwa masalah ini tidak asing.
Ke depan, pengadilan di Hong Kong akan menjadi sorotan, tidak hanya bagi keluarga korban yang menuntut keadilan, tetapi juga bagi industri konstruksi global. Pertanyaan mendasar yang muncul: apakah hukuman berat terhadap para pelaku akan cukup untuk mencegah tragedi serupa, atau diperlukan reformasi sistemik dalam regulasi bangunan?



