Capello Bongkar Alasan ‘Usir’ Ronaldo dari Real Madrid: Bau Alkohol di Ruang Ganti
Baca dalam 60 detik
- Fabio Capello mengaku memaksa Ronaldo hengkang dari Real Madrid pada 2007 karena kebiasaan pesta dan bau alkohol yang mengganggu ruang ganti.
- Pelatih disiplin asal Italia itu menyebut Ronaldo sebagai pemain terbaik yang pernah dilatihnya, namun menilai gaya hidupnya tidak sejalan dengan aturan tim.
- Transfer Ronaldo ke AC Milan terjadi secara tidak sengaja setelah Capello memberi tahu Silvio Berlusconi soal kebiasaan pesta sang pemain.

Fabio Capello, pelatih legendaris asal Italia, mengungkapkan alasan di balik keputusannya memaksa Ronaldo Nazário—yang dijuluki 'Il Fenomeno'—untuk meninggalkan Real Madrid pada Januari 2007. Dalam pernyataan yang mengejutkan, Capello mengaku bahwa aroma alkohol yang menyengat dari sang bintang setelah pesta larut malam menjadi pemicu utama. Meski menempatkan Ronaldo sebagai pemain terbaik yang pernah ia latih, Capello menilai disiplin adalah harga mati yang tak bisa ditawar.
Kisah ini terungkap dalam acara Milano Football Week, di mana Capello dengan blak-blakan menceritakan masa-masa sulitnya menangani Ronaldo. “Tanpa keraguan, Ronaldo adalah pemain terbaik yang pernah saya latih. Ia memang tidak suka berkorban atau berlatih keras, tapi kualitasnya unik dan tak saya lihat pada pemain lain,” ujar Capello. Namun, di balik pujian itu, ia menyimpan kekesalan terhadap gaya hidup sang striker yang dianggap mengganggu harmoni tim.
Menurut Capello, Ronaldo kerap mengajak rekan setimnya berpesta hingga larut malam. “Bau alkohol tercium di ruang ganti setelah malam-malam seperti itu. Ia sering menyeret beberapa pemain lain ikut serta. Saya pun memaksanya pergi,” kenang Capello. Keputusan itu diambil meski Capello sadar Ronaldo adalah aset berharga di lapangan—dalam 20 pertandingan kompetitif bersama AC Milan setelahnya, ia mencetak sembilan gol dan lima assist.
Yang menarik, transfer Ronaldo ke Milan terjadi secara tidak terduga. Capello bercerita bahwa ia sempat berkomunikasi dengan Silvio Berlusconi, pemilik AC Milan saat itu, tentang rencana mengirim Ronaldo ke Arab Saudi. “Berlusconi bertanya bagaimana perilaku pemain itu. Saya jawab, ia suka bersenang-senang dan berpesta. Keesokan harinya, saya membaca di koran bahwa Ronaldo akan bergabung dengan Milan,” ungkap Capello. Ironisnya, kepindahan itu justru membawa Ronaldo kembali ke San Siro—stadion yang dulu menjadi rumahnya saat membela Inter Milan (1997–2002).
Kisah Capello dan Ronaldo menjadi pengingat bahwa bakat luar biasa pun bisa kandas jika tidak diimbangi profesionalisme. Di Indonesia, fenomena ini relevan mengingat beberapa klub Liga 1 mulai menerapkan aturan ketat terkait gaya hidup pemain, seperti larangan merokok dan jam malam. Kasus Ronaldo juga menjadi pelajaran bagi manajemen klub bahwa kedisiplinan adalah fondasi prestasi jangka panjang, bukan sekadar urusan teknis di lapangan.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah: apakah pendekatan keras Capello masih relevan di era sepak bola modern yang lebih mengedepankan pendekatan personal? Atau justru klub-klub perlu meniru gaya manajemen yang lebih fleksibel seperti yang diterapkan Carlo Ancelotti? Yang jelas, jejak Ronaldo di Real Madrid dan Milan tetap abadi, namun kisah di balik layar ini menunjukkan bahwa sepak bola tidak hanya soal gol, melainkan juga karakter dan disiplin.



