Barcelona Kirim Utusan ke Como: Fabregas Disiapkan Jadi Suksesor Flick pada 2028
Baca dalam 60 detik
- Barcelona mengutus tangan kanan presiden, Alejandro Echevarría, ke Como untuk menjalin kesepakatan awal dengan Cesc Fabregas sebagai pelatih mulai 2028.
- Fabregas, yang membawa Como promosi ke Liga Champions, dianggap sebagai kandidat ideal menggantikan Hansi Flick yang kontraknya berakhir 2028.
- Langkah ini sekaligus mengubur peluang Luis Enrique kembali ke Camp Nou karena masalah gaji dan campur tangan manajemen.

Barcelona tidak menunggu hingga kontrak Hansi Flick habis. Klub Catalan itu telah mengirim utusan khusus ke Italia untuk mengamankan jasa Cesc Fabregas sebagai pelatih kepala mulai musim 2028, sebuah langkah yang mengindikasikan rencana suksesi jangka panjang di Camp Nou.
Menurut laporan Catalunya Ràdio yang dikutip AS, Alejandro Echevarría, orang kepercayaan Presiden Joan Laporta, terbang ke Como dengan misi tunggal: mengikat Fabregas dengan perjanjian awal. Flick sendiri masih terikat kontrak hingga 2028 dengan opsi perpanjangan setahun. Keputusan ini menunjukkan bahwa Barcelona ingin memastikan transisi kepelatihan berjalan mulus tanpa jeda.
Fabregas, yang kini berusia 37 tahun, telah membuktikan kapasitasnya sebagai pelatih. Dalam waktu singkat, ia membawa Como promosi dari Serie B ke Liga Champions—sebuah pencapaian yang langka bagi klub kecil Italia. Karier kepelatihannya yang meroket membuatnya menjadi incaran utama direktur olahraga Barcelona, Deco, yang disebut-sebut menjadi motor di balik pendekatan ini.
- Kontrak Hansi Flick berlaku hingga 2028, dengan opsi perpanjangan hingga 2029.
- Fabregas membawa Como dari Serie B ke Liga Champions dalam dua musim.
- Alejandro Echevarría adalah utusan khusus Laporta yang ditugaskan ke Como.
- Luis Enrique resmi dicoret dari daftar kandidat karena tuntutan gaji dan masalah kewenangan.
Yang menarik, laporan ini secara eksplisit menutup pintu bagi Luis Enrique. Mantan pelatih Barcelona itu disebut tidak cocok karena dua alasan: pertama, permintaan gajinya yang tinggi; kedua, keengganannya menerima campur tangan dalam manajemen skuat, termasuk dari Echevarría sendiri. Ini menandai perubahan arah kebijakan Barcelona yang sebelumnya kerap dikaitkan dengan kepulangan pelatih asal Asturias tersebut.
Bagi Fabregas, tawaran ini merupakan pengakuan tertinggi atas karier kepelatihannya yang masih muda. Lulusan La Masia itu kini berpeluang kembali ke klub yang membesarkan namanya sebagai pemain, namun kali ini sebagai nahkoda. Langkah ini juga menjadi sinyal bahwa Barcelona mulai serius membangun proyek jangka panjang setelah beberapa musim dilanda ketidakstabilan.
Dari sudut pandang sepak bola Indonesia, perkembangan ini relevan mengingat banyak penggemar di tanah air yang mengikuti karier Fabregas sejak era Arsenal dan Barcelona. Jika kesepakatan terealisasi, publik sepak bola nasional akan menyaksikan salah satu gelandang terbaik generasinya memimpin raksasa La Liga. Pertanyaan besarnya: akankah Fabregas mampu mengembalikan kejayaan Barcelona seperti yang ia alami sebagai pemain?



