Dua Pekan Terkatung-katung di Hutan Perak, Pendaki Wanita Ditemukan Selamat
Baca dalam 60 detik
- Jaslinda Saludin, 49 tahun, ditemukan oleh nelayan di Kampung Lubuk Gaharu setelah 14 hari hilang di Gunung Batu Putih.
- Korban bertahan hidup dengan meminum air sungai dan embun, serta mengonsumsi buah beri dan tumbuhan liar.
- Keberhasilan pencarian melibatkan polisi, pemadam kebakaran, relawan, dan masyarakat adat Orang Asli.

Seorang pendaki wanita yang dilaporkan hilang selama dua pekan di kawasan Gunung Batu Putih, Perak, Malaysia, akhirnya ditemukan dalam kondisi selamat. Jaslinda Saludin, 49 tahun, dievakuasi setelah ditemukan oleh nelayan di sekitar Sungai Kampung Lubuk Gaharu, Pos Musoh, pada Sabtu malam (7/6). Ia kini menjalani perawatan di Rumah Sakit Tapah dengan luka ringan dan gigitan serangga.
Suami Jaslinda, Haszman Othman, 61 tahun, menyampaikan rasa syukur yang mendalam atas keberhasilan pencarian. “Terima kasih kepada semua yang terlibat, terutama polisi, personel Pemadam Kebakaran, LSM, masyarakat Orang Asli, dan semua yang berpartisipasi,” ujarnya saat ditemui di unit gawat darurat RS Tapah. Ia mengaku tak pernah kehilangan keyakinan akan ketangguhan istrinya.
Koordinator Pemandu Gunung Kehutanan Perak, Muzafar Mohamad, mengungkapkan bahwa Jaslinda ditemukan di dalam zona pencarian yang telah disisir tim penyelamat. “Medannya sangat menantang, dipenuhi lembah, air terjun, dan tanah yang sulit. Bahkan bagi pemandu berpengalaman, mencapai beberapa bagian tidaklah mudah,” katanya. Ia memuji tekad dan kekuatan mental Jaslinda yang mampu bertahan.
Kepala Operasi Pemadam Kebakaran Perak, Sabarodzi Nor Ahmad, menjelaskan bahwa korban ditemukan oleh nelayan dan kemudian dibawa ke rumah kepala desa sebelum dirujuk ke rumah sakit. “Kami menyerahkannya ke Kementerian Kesehatan menggunakan kendaraan EMRS sekitar pukul 21.20,” ujarnya. Jaslinda diketahui sempat melewati lokasi yang telah dicari tim, namun tidak mendengar suara helikopter karena medan yang sulit.
Jaslinda bertahan hidup dengan meminum air sungai dan embun, serta mengonsumsi buah beri dan tumbuhan liar yang ditemukan di hutan. Ia bahkan sempat tiga hari tanpa akses air bersih. Menurut Sabarodzi, korban mengalami beberapa kali jatuh, termasuk dari ketinggian lima meter dan tiga meter saat menyeberangi sungai. Meski demikian, ia hanya menderita luka ringan di kepala dan gigitan serangga.
Seorang rekan Jaslinda, Hishammuddin Ahmad, 52 tahun, mengaku lega dengan kabar tersebut. Ia mengenal Jaslinda sejak 2019 melalui komunitas pendakian. “Kami semua yakin dengan pengalaman dan pengetahuannya sebagai pendaki. Ketika mendengar dia ditemukan selamat, rasanya seperti doa kami terkabul. Ini benar-benar keajaiban,” ujarnya.
Kisah ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapan mental dan fisik saat melakukan pendakian di medan ekstrem. Meski tim penyelamat telah menyisir area tersebut, faktor ketangguhan pribadi dan bantuan masyarakat setempat menjadi kunci utama. Ke depan, pihak berwenang diharapkan dapat meningkatkan sistem pencarian dan penyelamatan di kawasan hutan terpencil, serta mengedukasi pendaki tentang prosedur keselamatan yang lebih ketat.



