Beruang 100 Kg Resahkan Kota di Jepang, Sekolah Ditutup Selama Empat Hari
Baca dalam 60 detik
- Seekor beruang hitam Asia seberat 100 kilogram berhasil dilumpuhkan setelah mengembara di kawasan urban Utsunomiya, Jepang, memicu penutupan 94 sekolah.
- Penampakan pertama di pusat kota sejak 2020 ini menunjukkan meningkatnya interaksi satwa liar dengan permukiman, didorong oleh perluasan habitat.
- Otoritas setempat masih waspada terhadap kemungkinan beruang lain, sementara serangan terpisah di Iwate melukai seorang wanita.

Seekor beruang hitam Asia jantan seberat sekitar 100 kilogram berhasil dilumpuhkan oleh petugas di Utsunomiya, kota di utara Tokyo, setelah selama empat hari meresahkan warga dan memaksa 94 sekolah dasar serta menengah pertama ditutup. Peristiwa yang berakhir Selasa (10/6) ini menjadi penampakan pertama beruang di kawasan urban kota tersebut sejak 2020.
Beruang sepanjang satu meter itu pertama terlihat di kawasan hutan pada Sabtu, lalu mengembara ke permukiman padat penduduk. Pada Selasa pagi, satwa tersebut terlihat di kampus Universitas Utsunomiya, sehingga seluruh perkuliahan dibatalkan. Sekolah-sekolah yang sudah tutup sejak Senin diperpanjang hingga Rabu demi keselamatan anak-anak.
Proses penangkapan berlangsung dramatis. Sekitar pukul 14.00 waktu setempat, beruang ditemukan bersembunyi di bawah atap rumah warga, sekitar 2,5 kilometer tenggara Stasiun JR Utsunomiya. Polisi langsung memasang garis polisi, sementara petugas kebun binatang yang ditunjuk pemerintah prefektur melepaskan tembakan senapan bius. Tembakan ketiga yang mengenai sasaran pada pukul 15.30 akhirnya melumpuhkan hewan tersebut, yang kemudian dievakuasi oleh asosiasi perburuan.
Menurut pejabat kota Utsunomiya, area pemukiman yang dipenuhi semak belukar dan rumah-rumah menjadi tantangan utama dalam penangkapan. "Banyak rintangan seperti semak belukar yang menyulitkan upaya penangkapan," ujarnya dalam konferensi pers. Otoritas setempat masih akan berjaga selama tiga hari ke depan karena kemungkinan ada beruang lain yang berkeliaran.
Fenomena kemunculan beruang di kawasan urban Jepang bukanlah hal baru, namun frekuensinya meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Para ahli mengaitkannya dengan berkurangnya sumber makanan di hutan akibat perubahan iklim dan perluasan permukiman. Di Indonesia, konflik serupa kerap terjadi di Sumatera dan Kalimantan antara manusia dan beruang madu, meskipun spesies dan skala berbeda. Kasus Utsunomiya menjadi pengingat bahwa urbanisasi tanpa buffer zone yang memadai dapat memicu interaksi berbahaya dengan satwa liar.
Sementara itu, insiden terpisah terjadi di Hanamaki, Prefektur Iwate, Jepang timur laut. Seorang wanita berusia 40-an diserang beruang pada Selasa malam dan menderita luka di lengan kiri serta mata kanan. Beruang tersebut melarikan diri ke hutan setelah menyerang. Belum diketahui apakah serangan ini terkait dengan beruang yang ditangkap di Utsunomiya.
Ke depannya, pemerintah daerah Jepang diharapkan memperkuat sistem peringatan dini dan pengelolaan habitat satwa liar. Pertanyaan yang mengemuka: apakah penutupan sekolah dan evakuasi manual cukup efektif, atau diperlukan pendekatan jangka panjang seperti koridor satwa liar dan pengendalian populasi? Kasus Utsunomiya bisa menjadi studi kasus bagi kota-kota lain yang menghadapi ancaman serupa.



