Pencarian Dua Pria di Goa Laos Dihentikan: Risiko Terlalu Besar, Harapan Menipis
Baca dalam 60 detik
- Tim penyelamat menghentikan operasi pencarian dua pria yang hilang di goa semi-terendam di Laos setelah lebih dari dua minggu, karena kondisi goa yang tidak stabil dan peluang hidup yang tipis.
- Lima dari tujuh warga desa yang terjebak sejak 20 Mei berhasil dievakuasi, sementara dua lainnya masih hilang meskipun upaya pencarian melibatkan tim internasional.
- Penyelam berpengalaman menyebut misi ini sebagai yang paling berbahaya yang pernah mereka hadapi, dengan risiko longsor dan banjir yang meningkat seiring musim hujan.

Operasi pencarian dua pria yang hilang di dalam goa semi-terendam di Laos resmi dihentikan pada Sabtu (6 Juni) setelah lebih dari dua minggu berlangsung. Tim penyelamat menilai risiko kelanjutan operasi lebih besar daripada kemungkinan kecil untuk menyelamatkan korban, terutama karena kondisi goa yang semakin tidak stabil dan curah hujan yang diprediksi meningkat.
Korban adalah tujuh warga desa yang terjebak di goa di Provinsi Xaysomboun, Laos tengah, pada 20 Mei lalu. Saat itu, banjir bandang akibat hujan deras menutup jalan keluar mereka saat sedang berburu kelelawar untuk makanan dan mencari emas di area tambang tua, demikian laporan media setempat. Tim penyelamat berhasil menemukan lima orang dalam keadaan hidup seminggu kemudian. Satu orang dievakuasi oleh penyelam pada 29 Mei, dan empat lainnya dipandu keluar pada hari berikutnya setelah air dipompa keluar dari goa yang tergenang.
Dua orang lainnya tetap hilang meskipun pencarian intensif dilakukan oleh tim Laos dan internasional. Lee Kian Lie, penyelam goa asal Malaysia yang bergabung dalam operasi pada 28 Mei, mengatakan kepada AFP bahwa misi telah mencapai "akhir" karena risiko yang dihadapi lebih besar dari peluang penyelamatan. "Kami sudah sangat dekat," ujar Lee. "Air di dalam goa sudah bisa diatasi, tetapi pintu masuk goa mulai tidak stabil." Ia menambahkan, "Melanjutkan operasi berisiko tinggi. Mereka akan terus mengelola air dengan memompa dan menggali di titik-titik yang memungkinkan agar air mengalir lebih cepat. Mungkin keajaiban akan terjadi." Lee juga menyampaikan permintaan maaf kepada keluarga korban: "Semua orang sudah berusaha. Kami sudah mencoba. Saya minta maaf kepada keluarga."
Lee menggambarkan misi ini sebagai operasi penyelamatan paling berbahaya yang pernah ia alami. Tim menghadapi banjir, struktur goa yang tidak stabil, ruang gerak yang sempit, dan kualitas udara yang buruk. Kepala penyelamat asal Thailand, Kengkad Bongkawong, dalam unggahan media sosial pada Sabtu mengatakan bahwa "tidak ada yang diizinkan masuk ke dalam goa" karena "terlalu berisiko bagi siapa pun untuk masuk." Namun, operasi pemompaan air akan terus dilakukan dari luar. "Meskipun kami tidak tahu kondisi terkini kedua orang itu, mengurangi level air di dalam goa adalah pendekatan terbaik saat ini," tulisnya di Facebook. "Masih ada ransum makanan dan perlengkapan bertahan hidup yang telah kami tempatkan di berbagai titik di dalam goa. Jika keajaiban ada, saya percaya keahlian mereka akan menuntun mereka keluar dengan selamat."
Kengkad sebelumnya mengatakan bahwa aliran air hujan yang meningkat telah mengurangi ruang vertikal di dalam goa menjadi sekitar 30 cm—setengah dari ruang yang tersedia pada fase awal operasi. Ia memperingatkan bahwa mulai hari itu, hujan akan semakin deras. Pada Jumat (5 Juni), sejumlah ahli goa kunci, termasuk penyelam Finlandia Mikko Paasi dan Yoshitaka Isaji dari Jepang, telah meninggalkan lokasi. Kelima korban selamat ditemukan berdesakan di lorong sempit sekitar 300 meter dari pintu masuk goa. Mereka mengatakan bahwa dua pria yang hilang memasuki goa secara terpisah.
Bagi Indonesia, insiden ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan bencana dan manajemen risiko di area tambang ilegal atau aktivitas ekstraktif tradisional. Praktik serupa, seperti berburu atau mencari emas di goa-goa terpencil, juga rentan terjadi di beberapa wilayah Indonesia. Kejadian ini menegaskan perlunya regulasi yang lebih ketat serta edukasi masyarakat tentang bahaya banjir bandang dan kondisi goa yang tidak stabil, terutama saat musim hujan. Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah upaya pemompaan air dan pencarian di titik-titik resurgensi membuahkan hasil, ataukah dua pria itu akan menjadi korban keganasan alam yang sulit diprediksi?



