Tuchel Bawa Skuad Paling Berpengalaman, Inggris Siap Gebrak Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Inggris lolos ke Piala Dunia 2026 dengan rekor sempurna: delapan kemenangan tanpa kebobolan, menjadi tim Eropa pertama yang melakukannya.
- Manajer Thomas Tuchel memilih skuad berdasarkan peran spesifik, bukan sekadar bakat, dengan 22 dari 26 pemain telah meraih trofi sejak musim 2024-25.
- Ketergantungan pada Harry Kane menjadi titik rawan: tanpa dirinya, tingkat kemenangan Inggris turun drastis dari 75% menjadi 29% sejak Piala Dunia 2022.

Thomas Tuchel membawa angin segar sekaligus kontroversi dalam skuad Inggris untuk Piala Dunia 2026. Pelatih asal Jerman itu memilih 26 pemain yang dinilai paling cocok menjalankan peran spesifik, bukan sekadar mengumpulkan talenta terbaik. Keputusan ini memicu perdebatan sengit di kalangan penggemar, namun tak bisa dipungkiri: ini adalah skuad paling berpengalaman yang pernah dikirim Inggris ke panggung dunia, dengan total 71 penampilan di Piala Dunia sebelumnya.
Perjalanan Inggris menuju Amerika Utara terbilang gemilang. Mereka menjadi tim Eropa pertama yang memenangkan delapan pertandingan kualifikasi tanpa kebobolan satu gol pun. Harry Kane menjadi mesin gol utama dengan delapan dari 22 gol tim. Namun, hasil buruk di pertandingan persahabatan Maret lalu—imbang melawan Uruguay dan kalah dari Jepang, kekalahan pertama Inggris dari tim Asia—menjadi alarm bahwa segalanya belum sempurna.
Tuchel, yang sebelumnya sukses membawa Chelsea juara Liga Champions, menekankan pentingnya fisik ala Premier League. Namun, cuaca panas di Amerika Utara bisa menjadi penghalang. Ia juga mengandalkan kekuatan bola mati dari Declan Rice dan Bukayo Saka, serta "tim operasi khusus" di bangku cadangan yang dipilih untuk menjalankan tugas tertentu. Pertanyaan besar: bisakah ia menjaga hubungan dengan Jude Bellingham, yang sempat terlibat ketegangan?
Salah satu temuan terbesar adalah Elliot Anderson, gelandang Nottingham Forest yang baru debut pada September 2025. Ia mencatatkan statistik luar biasa: 3.300 sentuhan bola, 297 duel dimenangkan, dan 306 kali merebut penguasaan bola—terbanyak di antara pemain Premier League. Anderson mengisi posisi gelandang bertahan yang selama ini menjadi titik lemah Inggris. Kisahnya semakin inspiratif karena ia harus melewati masa duka kehilangan ibunda di tengah musim.
Di sisi lain, ketergantungan pada Harry Kane menjadi momok. Tanpa kapten yang sedang dalam performa terbaiknya—mencetak 61 gol klub, menyamai rekor Cristiano Ronaldo—Inggris tampil pucat. Sejak Piala Dunia 2022, rekor menang mereka tanpa Kane hanya 29%, dibandingkan 75% dengan Kane. Tuchel sendiri mengakui, "Kami butuh sedikit keberuntungan, pemilihan yang tepat, tetap sehat, dan memanfaatkan momen spesial."
Bagi Indonesia, perjalanan Inggris ini relevan sebagai gambaran bagaimana sebuah tim besar mengelola transisi pelatih dan tekanan ekspektasi. Dengan banyaknya pemain keturunan Indonesia di Eropa, pelajaran tentang pembangunan skuad berbasis peran—bukan sekadar nama besar—bisa menjadi inspirasi bagi pengembangan sepak bola nasional.
Ke depan, tantangan terbesar Tuchel adalah menjaga konsistensi di tengah panasnya Amerika Utara dan memastikan skuadnya tetap solid. Apakah ia akan menjadi genius atau sekadar petualang? Jawabannya akan terungkap di lapangan hijau Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada pada 2026.



