Pierre Sage, Arsitek Kebangkitan Lens, Masuk Radar Crystal Palace
Baca dalam 60 detik
- Crystal Palace memulai negosiasi dengan Lens untuk merekrut pelatih Pierre Sage sebagai pengganti Oliver Glasner.
- Sage sukses membawa Lens finis kedua Ligue 1 dan menjuarai Coupe de France untuk pertama kalinya dalam sejarah klub.
- Palace beralih ke Sage setelah gagal mendapatkan Andoni Iraola yang memilih bergabung dengan Liverpool.

Crystal Palace bergerak cepat mengisi kursi pelatih yang ditinggalkan Oliver Glasner dengan mengincar Pierre Sage, arsitek di balik kebangkitan RC Lens musim lalu. Manajemen The Eagles telah mengadakan pembicaraan awal dengan pelatih asal Prancis berusia 47 tahun itu dan menghubungi Lens untuk membahas kompensasi finansial guna melepasnya dari kontrak.
Pierre Sage bukan nama asing di Ligue 1. Ia mengambil alih Lens pada Juni tahun lalu dan langsung mengubah wajah tim. Dalam satu musim, Sage membawa Lens finis sebagai runner-up Ligue 1 di belakang Paris Saint-Germain, sebuah pencapaian yang mengembalikan kejayaan klub setelah beberapa musim medioker. Lebih dari itu, Lens juga berhasil memenangkan Coupe de France untuk pertama kalinya dalam sejarah 120 tahun klub, mengalahkan Nice di partai final. Dua prestasi ini membuat Sage menjadi salah satu pelatih paling menarik di Eropa.
Ketertarikan Crystal Palace kepada Sage bukan tanpa alasan. Sebelumnya, Palace menjadikan Andoni Iraola sebagai target utama. Namun, pelatih asal Spanyol itu memilih menerima tawaran Liverpool dengan kontrak dua tahun, membuat Palace harus mencari opsi lain. Sage kemudian muncul sebagai kandidat terdepan, menggeser nama-nama seperti Frank Lampard, Kieran McKenna, dan Sean Dyche yang sempat dikaitkan dengan posisi tersebut.
Bagi Crystal Palace, merekrut Sage adalah langkah ambisius. Klub yang berbasis di London Selatan itu ingin kembali bersaing di papan atas Premier League setelah musim lalu hanya finis di posisi tengah. Sage dinilai memiliki kemampuan taktik yang fleksibel dan pengalaman membangun tim dari bawah, sesuatu yang dibutuhkan Palace untuk bersaing dengan klub-klub besar Inggris.
Dari sisi Lens, kehilangan Sage bisa menjadi pukulan berat. Klub asal utara Prancis itu baru saja membangun kembali reputasi setelah sempat terdegradasi pada 2021. Sage adalah simbol kebangkitan tersebut. Namun, tawaran dari Premier League seringkali sulit ditolak, baik secara finansial maupun prestise. Jika Sage hengkang, Lens harus mencari pengganti yang mampu mempertahankan momentum positif tim.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, saga ini menarik karena menunjukkan bagaimana klub-klub Eropa berlomba mencari pelatih muda berbakat. Sage, yang sebelumnya tidak banyak dikenal, kini menjadi rebutan. Ini juga mengingatkan bahwa kesuksesan di liga domestik Eropa bisa menjadi batu loncatan ke panggung yang lebih besar. Pertanyaan besarnya, apakah Sage akan mampu beradaptasi dengan kerasnya Premier League jika akhirnya resmi menangani Crystal Palace? Atau justru ia akan menjadi 'one-season wonder' seperti beberapa pelatih lain yang gagal di Inggris?



