Aktor Top Gun: Maverick Tewas Ditikam, Anak Kekasih Jadi Tersangka
Baca dalam 60 detik
- James Handy, aktor kawakan yang membintangi Top Gun: Maverick dan Jumanji, ditemukan tewas di kediamannya di California setelah ditikam.
- Pelaku yang merupakan anak dari kekasih Handy langsung menyerahkan diri dan mengaku membunuh 'man of sin' dalam panggilan darurat.
- Kasus ini menyoroti risiko kekerasan dalam rumah tangga yang melibatkan anggota keluarga dekat, menjadi pengingat bagi publik Indonesia akan pentingnya deteksi dini konflik domestik.

James Handy, aktor veteran yang dikenal lewat perannya sebagai bartender dalam film Top Gun: Maverick, ditemukan tewas di kediamannya di Tarzana, California, pada Senin (3/6) pagi waktu setempat. Pria berusia 81 tahun itu menjadi korban penikaman yang diduga dilakukan oleh Michael Gledhill (44), putra dari kekasih Handy.
Polisi Los Angeles menerima laporan darurat sekitar pukul 09.30 waktu setempat. Dalam panggilan tersebut, seseorang melaporkan “masalah yang tidak diketahui” dan kemudian menambahkan pernyataan mengerikan: “Saya adalah anak manusia, saya baru saja membunuh manusia dosa.” Petugas yang tiba di lokasi mendapati Handy tergeletak di halaman depan rumah dalam keadaan tidak sadar dengan luka tusuk di dada. Ia dilarikan ke rumah sakit namun nyawanya tidak tertolong.
Pelaku, yang tinggal serumah dengan ibunya—kekasih Handy—menghampiri petugas yang sedang menyelidiki tempat kejadian dan mengaku sebagai pelaku. Ia langsung ditahan dan dibawa ke penjara Van Nuys dengan tuduhan pembunuhan. Jaminan ditetapkan sebesar 2 juta dolar AS. Polisi memastikan tidak ada ancaman lebih lanjut terhadap masyarakat.
Karier Handy membentang lebih dari tiga dekade. Selain Top Gun: Maverick yang menjadi penampilan terakhirnya, ia juga tampil dalam Jumanji (1995) sebagai pembasmi hama, serta serial populer seperti The X-Files, The West Wing, Melrose Place, Beverly Hills, 90210, ER, dan Criminal Minds. Kepergiannya meninggalkan duka di industri hiburan Hollywood.
Kasus ini mengingatkan pada fenomena kekerasan domestik yang tidak mengenal batas usia atau status sosial. Di Indonesia, kasus serupa kerap terjadi akibat konflik keluarga yang tidak tertangani. Psikolog forensik menekankan pentingnya intervensi dini ketika ada tanda-tanda ketegangan dalam rumah tangga, terutama yang melibatkan pasangan lansia dan anggota keluarga tiri. “Kekerasan seringkali dipicu oleh perasaan terancam atau masalah kejiwaan yang tidak diobati,” ujar seorang analis kriminal.
Ke depan, kasus Handy membuka pertanyaan tentang bagaimana sistem peradilan pidana menangani pelaku dengan latar belakang gangguan mental, serta perlunya perlindungan lebih bagi lansia yang rentan menjadi korban kekerasan oleh orang terdekat. Akankah kasus ini mendorong revisi kebijakan perlindungan lansia di Indonesia?



