Kapten Haiti Frantzdy Pierrot: Dari Sepatu Buatan Jeruk ke Panggung Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Frantzdy Pierrot, striker Haiti yang besar di Amerika Serikat, siap memimpin timnya di Piala Dunia 2026 setelah mencetak gol dalam laga uji coba melawan Selandia Baru.
- Pierrot mendirikan yayasan untuk anak-anak Haiti, memberikan harapan dan kesempatan bagi bakat terpendam di tengah krisis sosial dan kekerasan geng.
- Haiti tergabung dalam grup berat bersama raksasa sepak bola dunia, namun Pierrot menegaskan timnya tidak hanya akan menjadi pelengkap.
Frantzdy Pierrot, kapten tim nasional Haiti, akan memimpin negaranya kembali ke Piala Dunia setelah absen puluhan tahun—sebuah perjalanan yang dimulai dari bermain sepak bola tanpa alas kaki dengan bola jeruk di jalanan kampung halamannya. Striker berusia 31 tahun itu baru saja mencetak gol lewat sundulan keras dalam kemenangan 4-0 Haiti atas Selandia Baru di Florida Selatan, Selasa lalu, sebagai pemanasan menuju turnamen akbar.
Bagi Pierrot, sepak bola bukan sekadar olahraga. Di negara yang dilanda kemiskinan dan kekerasan geng, kehadiran Haiti di Piala Dunia 2026 menjadi simbol harapan dan persatuan. “Saat kami lolos, ribuan orang memenuhi jalan, berpelukan, bernyanyi, dan menari bersama. Sebelum itu, banyak yang takut keluar rumah karena kekerasan geng, tapi pada momen itu semua masalah seakan lenyap,” kenangnya dalam wawancara dengan FIFA.
Pierrot lahir di Haiti dan pindah ke Amerika Serikat pada usia 11 tahun setelah ayahnya bekerja tiga pekerjaan sekaligus untuk mengumpulkan uang. Kepindahan itu mengubah hidupnya: dari memanjat pohon jeruk untuk membuat bola, ia kini bisa makan sepuasnya dan mengejar mimpi. Meski harus meninggalkan bangku sekolah dan universitas, Pierrot memilih pindah ke Eropa untuk mengembangkan karier. “Ada saat saya ragu, tapi saya tak pernah berhenti percaya pada alasan saya datang,” ujarnya.
Kariernya melejit di Maccabi Haifa, klub Israel yang memberinya kepercayaan tampil di Liga Champions UEFA, Liga Europa, dan Liga Konferensi. Bersama Maccabi, ia meraih banyak gelar dan pengalaman berharga. “Mereka mengambil risiko pada saya, saya akan selalu berterima kasih,” kata Pierrot. Kini, ia membawa semangat yang sama ke tim nasional, yang lolos ke Piala Dunia setelah mengalahkan Kosta Rika di babak kualifikasi. Gol kemenangan yang dicetaknya menjadi momen emosional: “Pertama yang terlintas adalah keluarga, rekan setim, dan rakyat Haiti. Semua pengorbanan terbayar.”
Meski tergabung dalam grup berat, Pierrot menegaskan Haiti tidak datang sebagai pelengkap. “Kami sadar lawan-lawan kami adalah raksasa sepak bola, tapi kami percaya diri. Kami ingin bersaing, mewakili Haiti dengan bangga, dan menunjukkan semangat, gairah, serta keberanian kami,” tegasnya. Filosofi yang dipegang adalah pepatah Haiti: “L’union fait la force” — kekuatan terletak pada persatuan.
Bagi Indonesia, kisah Pierrot relevan mengingat banyak pemain diaspora Indonesia yang juga meniti karier di Eropa. Perjuangan Haiti melawan keterbatasan dan kekerasan geng mengingatkan pada tantangan serupa di beberapa daerah di Indonesia. Keberhasilan Pierrot membuktikan bahwa sepak bola bisa menjadi alat perubahan sosial, menginspirasi generasi muda untuk bermimpi besar meski dalam kondisi sulit.
Pierrot berharap penampilan Haiti di Piala Dunia bisa menginspirasi anak-anak muda di negaranya. “Orang mungkin menganggap kami underdog, tapi rakyat Haiti adalah pejuang. Kami akan menampilkan hati, persatuan, dan keyakinan di panggung terbesar sepak bola. Semoga ini menginspirasi generasi baru untuk percaya bahwa tidak ada mimpi yang terlalu besar,” pungkasnya. Pertanyaannya, mampukah Haiti mengejutkan dunia seperti yang dilakukan Kosta Rika atau Senegal di masa lalu? Atau akankah keterbatasan pengalaman menjadi batu sandungan?



