Danilo Buka Suara: Juventus Jadi Titik Balik Karier, Ronaldo dan Ancelotti Tetap Rendah Hati
Baca dalam 60 detik
- Bek Brasil Danilo menyebut masa di Juventus sebagai fase formatif terpenting dalam karier dan kehidupannya.
- Ia membandingkan kerendahan hati Cristiano Ronaldo dan Carlo Ancelotti yang tetap bekerja keras meski telah meraih banyak gelar.
- Menjelang Piala Dunia ketiganya, Danilo bertekad mengisi satu-satunya celah di lemari trofinya: gelar internasional.

Bek tim nasional Brasil, Danilo, menilai masa baktinya di Juventus sebagai babak paling menentukan dalam perjalanan karier dan kehidupan pribadinya. Kini berseragam Flamengo setelah 14 tahun berkiprah di Eropa, pemain berusia 34 tahun itu mengungkapkan bahwa pengalaman di Turin membentuknya menjadi pribadi yang lebih tenang, fokus, dan dewasa—modal berharga menjelang Piala Dunia ketiganya.
Dalam wawancara dengan The Athletic, Danilo menceritakan bagaimana atmosfer sepak bola Italia, khususnya di Juventus, memberinya perspektif baru. “Semua yang saya jalani sebelumnya mempersiapkan saya untuk momen itu,” ujarnya. Ia menyebut kebersamaan dengan legenda seperti Gianluigi Buffon, Leonardo Bonucci, dan Giorgio Chiellini mengajarinya arti gairah dan ketangguhan khas Italia. “Saya belajar bagaimana orang Italia hidup dan bermain sepak bola—passion dan resiliensi itu luar biasa.”
Tak hanya soal klub, Danilo juga menyoroti sosok Cristiano Ronaldo yang pernah menjadi rekan setimnya di Real Madrid dan Juventus. Menurut Danilo, Ronaldo kerap dipersepsikan sebagai makhluk luar biasa, namun di balik layar ia adalah pribadi normal yang totalitas pada sepak bola. “Di Turin dia lebih berpengalaman, tapi tetap mencetak banyak gol dan profesional sepanjang waktu. Cristiano hidup untuk sepak bola, hampir dalam setiap hal yang dia lakukan, untuk menjadi lebih baik setiap hari,” papar Danilo.
Perbandingan menarik juga dilontarkan Danilo terhadap pelatihnya saat ini di tim nasional Brasil, Carlo Ancelotti. Ia melihat kesamaan antara Ancelotti dan Ronaldo: sama-sama ikon sepak bola, namun tetap rendah hati. “Ancelotti seperti Cristiano. Salah satu orang paling terkenal di sepak bola, tapi dia menjalani hari-hari bersama kami seperti orang biasa. Dia rendah hati, dan ini adalah salah satu kemampuan terpenting seorang juara. Dia sudah memenangkan banyak hal, tapi dia bekerja seolah belum memenangkan apa pun,” ujar Danilo.
Bagi Danilo, Piala Dunia 2026 bukan sekadar turnamen biasa. Ini adalah peluang pamungkas untuk menambahkan mahkota internasional ke dalam lemari trofinya yang sudah sarat dengan gelar domestik di berbagai liga top Eropa. Dengan pengalaman dan kematangan yang ia peroleh dari petualangan di Italia, Spanyol, Inggris, dan Portugal, Danilo berharap bisa menjadi pilar penting dalam skuad Brasil yang haus akan gelar juara dunia.
Kisah Danilo menjadi cermin perjalanan panjang pemain Brasil yang memulai karier di Santos, lalu merantau ke Porto, sebelum akhirnya menembus raksasa Eropa seperti Real Madrid, Juventus, dan Manchester City. Kini kembali ke Brasil bersama Flamengo, ia membawa segudang pengalaman yang tak hanya memperkaya permainannya, tetapi juga menjadi inspirasi bagi generasi pesepak bola muda di tanah air. Pertanyaannya, mampukah Danilo mengukir sejarah di Piala Dunia mendatang dan menutup karier internasionalnya dengan sempurna?



