Bayer Leverkusen Tunjuk Eks Pelatih Barcelona Carles Martínez sebagai Nahkoda Baru
Baca dalam 60 detik
- Carles Martínez Novell resmi menukangi Bayer Leverkusen dengan kontrak dua tahun, menggantikan Kasper Hjulmand yang hengkang.
- Pelatih asal Spanyol itu membawa reputasi pengembangan pemain muda dan gaya bermain cair dari Toulouse dan akademi La Masia.
- Leverkusen berharap Martínez mampu mengembalikan tim ke jalur juara setelah musim lalu finis keenam dan gagal ke Liga Champions.

Bayer Leverkusen resmi menunjuk Carles Martínez Novell sebagai pelatih kepala anyar, menandatangani kontrak berdurasi dua tahun hingga Juni 2028. Langkah ini diambil setelah Kasper Hjulmand meninggalkan klub akibat gagal membawa Die Werkself lolos ke Liga Champions musim depan.
Martínez, yang genap berusia 42 tahun, bukanlah nama asing di kancah sepak bola Eropa. Sebelum bergabung dengan Leverkusen, ia menukangi Toulouse selama tiga musim dan sukses membawa klub Ligue 1 itu melaju ke fase gugur Liga Europa 2023/24. Salah satu pencapaian paling berkesan adalah kemenangan 3-2 atas Liverpool di fase grup. Gaya bermain fluid dan pendekatan berbasis pengembangan pemain muda menjadi ciri khasnya, yang diasah selama lima tahun melatih tim muda Barcelona di La Masia (2015–2020).
Direktur Olahraga Leverkusen, Simon Rolfes, mengungkapkan bahwa pemilihan Martínez melalui pertimbangan matang. “Kami mencari pelatih yang paling cocok untuk fase perkembangan Bayer 04 selanjutnya. Carles berhasil mengembangkan banyak pemain muda di Toulouse dan membentuk skuad multinasional menjadi tim yang solid,” ujar Rolfes. Ia menambahkan, pengalaman Martínez di akademi Barcelona memberikan keahlian teknis yang berharga, serta filosofi sepak bola modern yang diyakini mampu memberi dorongan bagi masa depan olahraga klub.
Martínez mewarisi tim yang tengah dalam masa transisi. Leverkusen menjadi klub ketiga yang ditangani pelatih berbeda dalam waktu singkat: Erik ten Hag hanya bertahan tiga laga kompetitif awal musim 2025/26 sebelum digantikan Hjulmand, yang mencatat 24 kemenangan dari 48 pertandingan (12 imbang, 12 kalah). Ketidakstabilan ini menjadi tantangan tersendiri bagi Martínez yang harus segera membangun kembali identitas permainan Leverkusen.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, pergerakan pelatih muda asal Spanyol ke Bundesliga kerap menjadi perhatian. Mengingat banyak pemain Asia, termasuk dari Asia Tenggara, yang merumput di Jerman, gaya kepelatihan Martínez yang mengedepankan pengembangan pemain muda bisa membuka peluang bagi talenta Asia untuk berkiprah di level tertinggi Eropa. Selain itu, pendekatan teknis ala La Masia yang ia bawa dapat menjadi inspirasi bagi akademi sepak bola di Indonesia yang tengah gencar melakukan modernisasi.
Leverkusen akan memulai musim 2026/27 dengan babak pertama DFB Cup pada 21-24 Agustus, disusul kick-off Bundesliga pada akhir pekan berikutnya. Pertanyaan besarnya, akankah Martínez mampu mengulang kesuksesan Xabi Alonso yang membawa Leverkusen meraih gelar ganda? Atau justru ia akan menjadi bagian dari daftar panjang pelatih yang gagal mengembalikan kejayaan klub?



