Enam Gol, Enam Piala Dunia: Jejak Top Skor yang Tak Terlupakan
Baca dalam 60 detik
- Dari Mario Kempes hingga Davor Suker, enam turnamen beruntun Piala Dunia (1978-1998) dimenangi oleh pencetak gol terbanyak dengan raihan enam gol.
- Fenomena ini baru terputus pada 2002 ketika Ronaldo Brasil mencetak delapan gol, membuka era baru produktivitas individu di panggung terbesar sepak bola.
- Rekor enam gol beruntun milik Paolo Rossi dan Oleg Salenko menjadi pengingat betapa konsistensi di Piala Dunia adalah pencapaian langka dan berharga.
FIFA, dalam hitung mundur menuju Piala Dunia 2026, merilis fakta statistik yang menarik perhatian: selama enam edisi berturut-turut, dari Argentina 1978 hingga Prancis 1998, pencetak gol terbanyak selalu mengakhiri turnamen dengan torehan enam gol. Rentang dua dekade itu menjadi saksi bagaimana angka keramat tersebut menjadi patokan ketajaman seorang striker di panggung terbesar sepak bola.
Mario Kempes menjadi pembuka tradisi ini pada 1978, ketika ia mengantarkan Argentina juara di kandang sendiri. Empat tahun kemudian, Paolo Rossi mengulangi pencapaian serupa sekaligus membawa Italia meraih gelar ketiga mereka. Rossi, yang sempat tersandung skandal pengaturan skor, bangkit dengan gemilang di Spanyol. Setelah itu, Gary Lineker (1986) dan Toto Schillaci (1990) masing-masing menjadi top skor dengan enam gol, meski tim mereka tidak menjadi juara. Lineker bahkan menjadi pemain Inggris pertama yang meraih Sepatu Emas sejak turnamen tersebut diperkenalkan.
Puncak dari rentetan ini terjadi pada 1994, ketika dua pemain berbagi gelar pencetak gol terbanyak: Oleg Salenko dari Rusia dan Hristo Stoichkov dari Bulgaria. Salenko mencatat rekor unik dengan mencetak lima gol dalam satu pertandingan melawan Kamerun, sementara Stoichkov membawa Bulgaria ke semifinal untuk pertama kalinya. Davor Suker dari Kroasia kemudian menutup era enam gol pada 1998, dengan torehan yang membantunya meraih Sepatu Emas di Prancis. Suker, yang kini menjabat sebagai presiden Federasi Sepak Bola Kroasia, pernah mengatakan bahwa turnamen 1998 "tertanam dalam jiwanya".
Rekor enam gol beruntun ini baru terputus pada 2002, ketika Ronaldo Brasil mengemas delapan gol dan membawa timnya juara. Sejak itu, angka enam gol masih kerap munculโseperti yang dilakukan Harry Kane pada 2018โnamun tidak lagi menjadi standar mutlak. Menariknya, dari enam pemain yang memulai tradisi ini, hanya Kempes, Rossi, dan Ronaldo yang berhasil membawa pulang trofi juara dunia. Ini menunjukkan bahwa menjadi top skor tidak selalu berbanding lurus dengan kesuksesan tim.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, fakta ini mengingatkan bahwa Piala Dunia bukan sekadar ajang adu kolektif, tetapi juga panggung bagi individu untuk mengukir sejarah. Dengan semakin ketatnya persaingan dan perubahan taktik, mungkinkah kita akan melihat kembali rentetan enam gol beruntun di masa depan? Atau justru angka itu akan menjadi kenangan manis dari era yang berbeda?



