Marcel Sabitzer: Gelandang Serbabisa Austria yang Siap Jadi Kejutan di Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Marcel Sabitzer, gelandang Borussia Dortmund, menjadi motor utama permainan Austria yang digadang-gadang sebagai kuda hitam Piala Dunia 2026.
- Meski musim 2025/26 diwarnai cedera, kontribusi defensif dan distribusi bolanya justru meningkat, menggeser peran dari sekadar pencetak gol.
- Pelatih Austria Ralf Rangnick menyebut Sabitzer tampil lebih baik bersama tim nasional dibanding di klub, menjadikannya pemimpin sejati di lapangan.

Gelandang Borussia Dortmund, Marcel Sabitzer, menjelma menjadi figur sentral di lini tengah tim nasional Austria yang mulai diperhitungkan sebagai calon kejutan pada gelaran Piala Dunia 2026. Pemain berusia 32 tahun itu tidak hanya menjadi jembatan antara pertahanan dan serangan, tetapi juga membawa pengalaman puluhan pertandingan internasional yang sulit dicari tandingannya.
Meskipun musim 2025/26 diwarnai cedera yang membatasi waktu bermainnya, Sabitzer tetap menjadi bagian rotasi reguler Dortmund. Dalam 34 penampilan kompetitif, ia mencatatkan satu gol dan empat assist. Namun, angka tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan perannya. Pelatih Dortmund, Niko Kovač, menekankan bahwa Sabitzer tidak diukur dari kontribusi gol atau assist semata. “Ia bermain sebagai gelandang bertahan, tugasnya memutus serangan lawan dan menghubungkan permainan dari belakang ke depan. Ia melakukan hal-hal dasar dengan sangat baik,” ujar Kovač.
Perubahan peran Sabitzer di klub justru menjadi keuntungan bagi tim nasional Austria. Pelatih Ralf Rangnick memanfaatkan kemampuan adaptasinya dengan menempatkannya sebagai gelandang pekerja keras yang menghubungkan pertahanan dan serangan, menambah intensitas pressing, serta menyumbang pengalaman di laga-laga besar. “Semua orang bisa melihat ia bermain lebih baik bersama kami dibandingkan di Dortmund. Ia sangat berpengaruh dan merupakan salah satu pemimpin sejati kami,” puji Rangnick.
Kemampuan Sabitzer untuk bermain di berbagai peran di lini tengah—dari gelandang bertahan hingga gelandang serang—memberikan fleksibilitas taktis yang berharga bagi Austria. Dengan 98 caps dan 26 gol internasional, ia menjadi salah satu pemain paling berpengalaman di skuad. Kombinasi antara visi permainan, ketenangan dalam penguasaan bola, dan etos kerja tanpa lelah membuatnya sulit digantikan.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Sabitzer menjadi pengingat bahwa pemain yang tidak selalu menonjol di klub bisa menjadi pilar penting di tim nasional. Perannya sebagai gelandang serbabisa juga relevan dengan perkembangan taktik modern yang menuntut fleksibilitas. Apakah Sabitzer mampu membawa Austria melangkah lebih jauh dari sekadar kuda hitam? Jawabannya akan terlihat di Piala Dunia 2026 mendatang.
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/7998482/original/017244400_1780837004-timnas.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8000917/original/053205700_1780839769-20260605BL_Timnas_Indonesia_Vs_Oman_FIFA_Matchday_2026_12.jpg)