GLP-1 Drugs seperti Ozempic dan Wegovy Berpotensi Turunkan Risiko Kanker Payudara hingga 30%
Baca dalam 60 detik
- Studi observasional terhadap lebih dari 111.000 perempuan menunjukkan pemakaian obat GLP-1 terkait dengan penurunan odds kanker payudara sekitar 30-35%.
- Temuan ini memicu rencana uji klinis multisenter internasional bernama INSPIRE untuk memvalidasi efek perlindungan langsung obat tersebut.
- Jika terbukti kausal, GLP-1 bisa menjadi opsi pencegahan baru yang lebih mudah diakses dibanding operasi bariatrik atau terapi anti-estrogen.

Obat golongan GLP-1 receptor agonists yang populer untuk diabetes dan penurunan berat badan, seperti Ozempic dan Wegovy, menunjukkan potensi baru: menurunkan risiko kanker payudara hingga sepertiga. Temuan ini disajikan dalam Pertemuan Tahunan American Society of Clinical Oncology (ASCO) 2026 dan dipublikasikan di JCO Oncology Practice, memicu langkah menuju uji klinis untuk memastikan hubungan sebab-akibat.
Peneliti dari University of Pennsylvania menganalisis data rekam medis elektronik 111.646 perempuan berusia 45–80 tahun dengan indeks massa tubuh (BMI) 25 atau lebih, yang menjalani pencitraan payudara di sistem kesehatan Penn Medicine antara Januari 2022 dan Juni 2025. Sekitar 13,7% dari mereka memiliki resep GLP-1, sementara sisanya tidak. Setelah mencocokkan faktor usia, ras, BMI, kepadatan payudara, dan status diabetes, tim menemukan bahwa pengguna GLP-1 memiliki odds 30,5% lebih rendah terkena kanker payudara pada kelompok yang dipasangkan, dan 35,1% lebih rendah pada analisis populasi penuh.
“Konsistensi hasil di kedua analisis memperkuat keyakinan bahwa asosiasi ini bukan semata karena perbedaan kelompok,” ujar Elizabeth McDonald, MD, PhD, profesor radiologi di Perelman School of Medicine dan radiolog payudara di Abramson Cancer Center. Ia menambahkan, jika divalidasi, efek perlindungan ini sebanding dengan intervensi pencegahan mapan seperti operasi bariatrik dan terapi anti-estrogen, namun dengan keunggulan skalabilitas.
Mekanisme di balik temuan ini belum sepenuhnya terungkap. Penurunan berat badan jelas berperan, mengingat obesitas—terutama setelah menopause—meningkatkan produksi estrogen oleh jaringan lemak dan memicu inflamasi kronis yang mendukung karsinogenesis. Namun, McDonald menekankan bahwa GLP-1 mungkin bekerja melalui jalur independen. “Kami belum tahu apakah obat ini secara langsung memengaruhi pertumbuhan tumor terlepas dari penurunan berat badan, atau bagaimana dampaknya terhadap inflamasi di mikro lingkungan tumor,” katanya. Studi sebelumnya menunjukkan GLP-1 memiliki sifat anti-inflamasi, menurunkan resistensi insulin, dan memodulasi sinyal insulin-like growth factor—semua terkait dengan risiko kanker payudara.
Bagi Indonesia, temuan ini membuka diskusi tentang strategi pencegahan kanker yang lebih terjangkau. Angka obesitas di Indonesia terus meningkat, dan kanker payudara menjadi beban utama dengan insidensi tinggi. Saat ini, opsi pencegahan seperti mastektomi profilaksis atau obat tamoxifen memiliki efek samping signifikan dan hanya direkomendasikan untuk kelompok risiko sangat tinggi. Jika GLP-1 terbukti efektif, obat yang sudah banyak digunakan untuk diabetes dan obesitas ini bisa menjadi alat pencegahan yang lebih luas, terutama bagi perempuan dengan kelebihan berat badan. Namun, perlu diingat bahwa studi ini bersifat observasional dan belum membuktikan kausalitas.
Tim peneliti kini bersiap meluncurkan uji klinis prospektif multisenter bernama INSPIRE, kolaborasi antara American College of Radiology Center for Research and Innovation dan Eastern Cooperative Oncology Group (ECOG-ACRIN). Uji coba ini akan menyasar perempuan dengan risiko tinggi, termasuk penyintas kanker payudara, dan memanfaatkan populasi lebih dari 108.000 peserta yang sudah terdaftar dalam program skrining TMIST. “Kami sedang menggalang dana,” ungkap McDonald. Jika hasilnya positif, implikasinya bisa meluas ke jenis kanker lain yang terkait obesitas, seperti kanker paru, usus besar, hati, leukemia, dan multiple myeloma.
Pertanyaan yang tersisa: akankah GLP-1 menjadi pencegahan kanker yang bisa diakses oleh semua kalangan, atau hanya akan menjadi solusi bagi mereka yang sudah mengonsumsinya untuk indikasi lain? Uji klinis yang direncanakan diharapkan menjawabnya dalam beberapa tahun ke depan.



