Legenda 1966 Antonio Simoes: Generasi Portugal Saat Ini Punya Segalanya untuk Juara Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Antonio Simoes, pemain termuda skuad Portugal 1966, menilai generasi saat ini memiliki potensi juara Piala Dunia 2026 berkat keseimbangan lini.
- Simoes mengingatkan pentingnya persatuan dan kerendahan hati, seperti yang ditunjukkan tim 1966 yang berhasil menempatkan Portugal di peta sepak bola dunia.
- Cristiano Ronaldo disebut sebagai sosok kunci yang masih bisa menentukan laga, meski ini mungkin menjadi kesempatan terakhirnya merebut trofi Piala Dunia.
Antonio Simoes, satu-satunya anggota tersisa dari skuad Portugal yang merebut peringkat ketiga Piala Dunia 1966, percaya bahwa generasi saat ini memiliki semua elemen yang dibutuhkan untuk menjadi juara dunia pada 2026. Dalam wawancara eksklusif dengan FIFA, pemain berusia 82 tahun itu menyoroti kedalaman skuad, semangat kolektif, dan peran vital Cristiano Ronaldo sebagai fondasi mimpi besar Portugal.
Bagi Simoes, tim 1966 bukan sekadar pencapaian olahraga, melainkan tonggak kebangkitan sebuah bangsa. “Portugal adalah negara terpinggirkan di sepak bola, dan kami membuat sejarah dengan pemain kulit hitam dan putih bersatu dalam tim,” kenangnya. Kini, ia melihat pola serupa pada skuad asuhan Roberto Martinez: lini belakang kokoh, pencetak gol di depan, dan para pemikir di lini tengah. “Jika sebuah tim tidak memiliki pemikir, ia akan kesulitan. Portugal memilikinya,” tegas Simoes.
Simoes, yang masih memegang rekor sebagai pemain termuda peraih Piala Eropa (18 tahun 139 hari saat Benfica mengalahkan Real Madrid pada 1962), menekankan bahwa pengalaman bermain di panggung besar telah mempersiapkannya menghadapi tekanan Piala Dunia. Ia juga belajar banyak dari kapten Mario Coluna, yang menurutnya “berbicara sedikit tetapi bertindak banyak”. Semangat persatuan itulah yang menurut Simoes harus diwarisi generasi sekarang.
Salah satu momen paling berkesan dalam karier Simoes adalah kemenangan 3-1 atas Brasil di babak grup 1966, di mana ia mencetak gol pembuka. “Perasaan mencetak gol melawan Brasil di Piala Dunia tak terlukiskan,” ujarnya. Setelah pertandingan, pelatih Otto Gloria berkata di ruang ganti, ‘Sekarang jelas kita akan melaju jauh di Piala Dunia ini.’ Namun, euforia itu sempat membuat tim ‘melupakan’ sang pelatih setelah comeback dramatis 5-3 melawan Korea Utara di perempat final. Gloria tertinggal di Liverpool saat tim berangkat ke Manchester, dan baru muncul di hotel dengan teriakan khasnya.
Bagi Simoes, persahabatan dengan Eusebio adalah kenangan paling berharga. “Dia memiliki kecerdasan emosional luar biasa. Suatu kali dia bilang saya adalah saudara putihnya. Tidak ada satu momen pun aku merasa kehilangan dia. Dia selalu bersamaku,” kata Simoes dengan mata berkaca-kaca. Hubungan itu mengingatkan pada pentingnya ikatan emosional dalam tim, sesuatu yang ia harap juga dimiliki skuad saat ini.
Menatap Piala Dunia 2026, Simoes menaruh harapan besar pada Cristiano Ronaldo. “Dia pemain hebat, mungkin menghadapi kesempatan terakhirnya memenangi Piala Dunia. Dia masih bisa menentukan pertandingan jika tetap dekat dengan gawang,” ujarnya. Namun, ia juga mengingatkan bahwa kesuksesan tidak hanya bergantung pada individu. “Portugal tidak boleh kehilangan kebanggaan dan persatuan. Saya berharap setiap pemain melangkah ke lapangan dengan tekad membuat sejarah, memahami bahwa kerendahan hati bukanlah ketundukan, melainkan jalan menuju kejayaan.”
Bagi publik Indonesia, kisah Portugal 1966 dan ambisi 2026 menawarkan pelajaran tentang bagaimana sebuah tim bangkit dari keterpinggiran menjadi kekuatan global. Dengan populasi sepak bola yang besar dan talenta muda yang terus bermunculan, Indonesia bisa meniru semangat persatuan dan perencanaan jangka panjang yang ditunjukkan Portugal. Akankah generasi emas Portugal mampu mengakhiri puasa gelar Piala Dunia? Jawabannya akan mulai terlihat pada 2026.



