Ponaryo Astaman: Chemistry Sriwijaya FC Seperti Otomatisasi, Puncak Karier yang Tak Terlupakan
Baca dalam 60 detik
- Ponaryo Astaman menyebut skuad Sriwijaya FC era 2010-2012 sebagai tim paling kompak sepanjang kariernya, dengan chemistry yang sudah seperti otomatisasi.
- Gelandang legendaris itu meraih gelar juara ISL 2011/2012 bersama Laskar Wong Kito, menjadi satu-satunya trofi liga dalam perjalanan panjangnya.
- Kini sebagai CEO Borneo FC, Ponaryo membawa pelajaran bahwa tim hebat dibangun dari pemahaman kolektif, bukan sekadar individu berbakat.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/13953/original/ponaryo-astaman-sriwijaya-130315c.jpg)
Ponaryo Astaman, mantan kapten Timnas Indonesia yang malang melintang di berbagai klub tanah air, menegaskan bahwa masa kejayaan Sriwijaya FC pada awal dekade 2010-an bukanlah sekadar keberuntungan. Dalam sebuah wawancara eksklusif, ia mengungkapkan bahwa kunci sukses Laskar Wong Kito saat itu adalah chemistry tim yang sudah mencapai level otomatisasi—setiap pemain tahu persis apa yang harus dilakukan bahkan sebelum bola sampai di kakinya.
Ponaryo, yang kini menjabat sebagai CEO Borneo FC, mengaku bahwa dari sekian banyak klub yang pernah ia bela, hanya di Sriwijaya FC ia merasakan harmoni sempurna antara kualitas individu dan pemahaman kolektif. Bersama nama-nama seperti Firman Utina, M. Ridwan, Mahyadi Panggabean, Lim Joon-sik, dan Keith Kayamba Gumbs, ia berhasil mempersembahkan gelar Indonesia Super League 2011/2012, Piala Indonesia 2010, Community Shield 2010, serta Inter Island Cup 2010 dan 2012.
“Kalau yang saya rasakan, asyik waktu itu memang. Karena pemain-pemain yang ada di situ sudah cukup lama kita tahu satu sama lain, terutama di timnas. Jadi chemistry-nya itu memang sudah ada, di samping faktor individu skill-nya juga memang menunjang,” tutur Ponaryo dalam kanal YouTube Bola Bung Binder.
Menurut Ponaryo, keistimewaan tim tersebut terletak pada kemampuan membaca permainan secara instingtif. Ia mencontohkan bagaimana ia bisa mengantisipasi pergerakan Firman Utina atau Ridwan tanpa perlu berteriak. “Saya sebelum dapat bola saja saya sudah tahu mau ngapain. Ini pasti di sini ada Firman, sebelah sana pasti ada Ridwan. Kayamba juga kayak gitu,” kenangnya.
Ponaryo juga mengenang momen lucu bersama Firman Utina yang kerap turun terlalu jauh membantu pertahanan. “Sampai Firman sering bilang, kalau dia jemput bola ke bawah itu saya sering marah. 'Eh, ngapain sampai ke bawah-bawah sini? Enggak ada kerjaan apa di depan. Tunggu aja di depan, entar bola ke sana sendiri',” ceritanya sambil tertawa. Anekdot ini menunjukkan betapa dalamnya pemahaman antarpemain, hingga mereka bisa saling mengingatkan dengan cara yang santai namun efektif.
Bagi Ponaryo, pengalaman di Sriwijaya FC menjadi fondasi penting dalam karier manajerialnya saat ini. “Bermain sebagai satu tim dengan pemain-pemain seperti itu memang menimbulkan excitement yang oke, yang susah dibilang, tapi kayak kita main ya main aja, ngalir aja gitu loh. Itu yang memperingan kerja masing-masing pemain dan masing-masing lini karena chemistry yang sudah sangat-sangat terjalin,” pungkasnya.
Di tengah sepak bola Indonesia yang kerap diwarnai instabilitas, kisah Ponaryo menjadi pengingat bahwa kesuksesan jangka panjang tidak hanya bergantung pada kualitas individu, melainkan pada kemampuan membangun ekosistem tim yang saling percaya. Pertanyaannya, mampukah klub-klub saat ini meniru formula otomatisasi ala Sriwijaya FC untuk mengulang kejayaan serupa?



