Piala Dunia 2026: Ronaldo Tertua, Mora Termuda, City Mendominasi
Baca dalam 60 detik
- Cristiano Ronaldo (41 tahun) menjadi pemain outfield tertua di Piala Dunia 2026, sementara kiper Skotlandia Craig Gordon (43 tahun) menjadi pemain paling senior secara keseluruhan.
- Manchester City menyumbang 19 pemain dari 12 negara, rekor terbanyak dari satu klub, mengungguli Arsenal (16) dan klub-klub top Eropa lainnya.
- Pantai Gading memiliki skuad termuda dengan rata-rata usia di bawah 22 tahun, sementara Panama, Iran, dan Kolombia membawa skuad tertua dengan rata-rata di atas 30 tahun.

Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada akan menjadi panggung bagi perpaduan generasi: Cristiano Ronaldo yang berusia 41 tahun akan menjadi pemain outfield tertua, sementara gelandang Meksiko Gilberto Mora, 17 tahun, menjadi yang termuda. Dengan 48 skuad yang sudah diumumkan, turnamen ini menyajikan kontras usia, distribusi pemain dari liga top, serta dominasi klub-klub tertentu dalam memasok talenta.
Manchester City mencatatkan rekor baru dengan mengirimkan 19 pemain ke Piala Dunia, mewakili 12 negara berbeda—jumlah terbanyak dari satu klub dalam sejarah turnamen. Arsenal menyusul dengan 16 pemain untuk 10 negara, sementara juara Bundesliga, Ligue 1, dan La Liga masing-masing menyumbang angka signifikan. Menariknya, Inter Milan, juara Serie A, hanya mengirim tujuh pemain akibat absennya Italia. Di Premier League, Crystal Palace—juara Conference League—justru mengirim 12 pemain, lebih banyak dari Liverpool dan Chelsea yang masing-masing 11 pemain, termasuk pemain pinjaman Sunderland.
Dari sisi kualitas liga, Spanyol menjadi satu-satunya tim yang seluruh pemainnya bermain di lima liga top Eropa (Premier League, La Liga, Bundesliga, Serie A, Ligue 1). Sebaliknya, Curacao, Iran, Irak, dan Qatar tidak memiliki satu pun pemain dari liga tersebut—kecuali Ali Jasim (Irak) yang terdaftar di Como namun dipinjamkan ke Arab Saudi. Argentina dan Senegal menjadi wakil non-Eropa dengan jumlah pemain terbanyak di liga top. Kehadiran pemain seperti Ivan Toney (Al-Ahli) dan Leroy Sane (Galatasaray) menunjukkan bahwa liga di luar Eropa mulai diperhitungkan.
Bagi Indonesia, distribusi ini relevan karena semakin banyak pemain Asia dan Afrika yang merambah Eropa, membuka peluang bagi talenta Tanah Air untuk mengikuti jejak serupa. Absennya wakil Asia di liga top—kecuali Jasim—menjadi pengingat bahwa pengembangan pemain muda di kawasan masih perlu ditingkatkan. Turnamen ini juga bisa menjadi tolok ukur bagi federasi sepak bola Indonesia untuk memetakan strategi pembinaan jangka panjang.
Di kutub usia, Pantai Gading tampil sebagai skuad termuda dengan rata-rata di bawah 22 tahun, didorong oleh Yan Diomande (19) dan Bazoumana Toure (20). Maroko dan Spanyol juga membawa tim muda, termasuk Lamine Yamal (18) dan Pau Cubarsi (19). Sementara itu, Panama, Iran, dan Colombia menjadi tim dengan rata-rata usia di atas 30 tahun. Brasil mengandalkan trio veteran Danilo, Casemiro, dan Neymar (34 tahun) untuk merebut gelar pertama sejak 2002. Skotlandia, yang tampil di Piala Dunia pertama sejak 1998, membawa kiper Craig Gordon (43 tahun) sebagai pemain tertua turnamen. Luka Modric dan Edin Dzeko melengkapi klub pemain di atas 40 tahun.
Pertanyaan besarnya: akankah pengalaman para senior mampu mengimbangi kecepatan dan energi generasi muda seperti Mora dan Karl? Atau justru turnamen ini menjadi saksi peralihan tongkat estafet ke tangan anak-anak muda? Jawabannya akan terungkap dalam sebulan ke depan di tiga negara tuan rumah.



