Saudi Arabia di Piala Dunia 2026: Tim Penuh Tekad di Tengah Keterbatasan Waktu
Baca dalam 60 detik
- Pelatih anyar Georgios Donis ditunjuk hanya 59 hari sebelum laga perdana Piala Dunia 2026, menggantikan Herve Renard yang dipecat setelah kekalahan telak dari Mesir.
- Saudi Arabia mengandalkan Salem Al Dawsari yang berusia 34 tahun, sementara hanya satu pemainnya bermain di luar negeri, yaitu Saud Abdulhamid (Lens).
- Tim berjuluk Green Falcons ini belum pernah lolos ke fase gugur sejak debut 1998 dan memiliki persentase kekalahan tertinggi (68%) di antara negara dengan minimal 15 pertandingan Piala Dunia.

Kurang dari dua bulan menjelang laga perdana Piala Dunia 2026, Federasi Sepak Bola Arab Saudi mengambil langkah berani dengan menunjuk Georgios Donis sebagai pelatih kepala. Keputusan ini diambil setelah Herve Renard dipecat menyusul kekalahan 4-0 dari Mesir pada akhir Maret lalu. Donis, yang sebelumnya menangani Al Khaleej di Liga Pro Saudi, kini dihadapkan pada tugas berat: menyatukan tim yang sempat mengejutkan dunia dengan kemenangan atas Argentina di edisi 2022.
Kemenangan 2-1 atas Argentina di Qatar menjadi puncak prestasi terakhir Saudi Arabia di panggung dunia. Namun, sejak saat itu, performa tim justru menurun drastis. Roberto Mancini yang sempat ditunjuk sebagai pelatih hanya bertahan setahun, mengeluhkan bahwa derasnya investasi pemain bintang asing di Liga Pro Saudi justru menghambat menit bermain pemain lokal. Hingga kini, hanya satu pemain Saudi yang berkarier di luar negeri: bek kanan Lens, Saud Abdulhamid.
Donis, mantan gelandang Blackburn Rovers dan timnas Yunani, membawa filosofi menyerang yang ia terapkan di Al Khaleej. Dalam laga uji coba pertamanya melawan Ekuador pada 31 Mei, meski kalah 2-1, Saudi Arabia mencatatkan 12 tembakan, penguasaan bola lebih tinggi, dan lebih banyak umpan ke depan. Ini menandakan perubahan taktik dari pendahulunya yang cenderung bertahan. Namun, waktu yang singkat menjadi tantangan utama: hanya 59 hari untuk meramu strategi sebelum laga pertama Piala Dunia.
Ketergantungan pada Salem Al Dawsari masih menjadi sorotan. Pemain berusia 34 tahun itu tetap menjadi andalan, namun dukungan dari pemain muda seperti Musab Al Juwayr (22 tahun) mulai terlihat. Al Juwayr mencatatkan tiga assist terbanyak di babak kualifikasi dan diproyeksikan menjadi pengatur serangan masa depan. Sementara itu, Saud Abdulhamid, yang bermain penuh di setiap laga Piala Dunia 2022, diharapkan menjadi jangkar pertahanan.
Bagi Indonesia, perjalanan Saudi Arabia menjadi cermin ambisi sepak bola Asia yang didukung kekuatan finansial namun terkendala pembinaan pemain lokal. Investasi besar di Liga Pro Saudi belum berbanding lurus dengan prestasi tim nasional. Hal ini relevan dengan diskusi di Tanah Air tentang keseimbangan antara kompetisi domestik yang kompetitif dan pengembangan pemain muda. Jika Saudi Arabia gagal di Piala Dunia 2026, tekanan untuk mereformasi sistem pembinaan usia muda di Asia akan semakin kuat.
Donis menjadi pelatih Yunani kedua yang memimpin tim di Piala Dunia setelah Alketas Panagoulias (1994). Ironisnya, Donis sendiri pernah dicoret dari skuad Panagoulias 32 tahun lalu saat masih bermain untuk Panathinaikos. Kini, ia berusaha membawa Saudi Arabia melampaui catatan buruk: sejak 1998, tim belum pernah lolos ke fase gugur dan mencatat rekor kekalahan tertinggi (68%) di antara negara dengan minimal 15 pertandingan Piala Dunia. Pertanyaannya, mampukah Donis mengulang kejutan ala Argentina 2022, atau justru menjadi bagian dari statistik kelam?

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5539867/original/084374500_1774653145-Timnas_Indonesia_vs_Saint_Kitts_and_Nevis-33.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/7903638/original/073021500_1780733997-20260605BL_Timnas_Indonesia_Vs_Oman_FIFA_Matchday_2026_34.jpg)