Piala Dunia 2026: Tommy Smith Siap Pensiun Usai Panggilan Terakhir Bersama Selandia Baru
Baca dalam 60 detik
- Bek Braintree Town, Tommy Smith (36), dipanggil memperkuat Selandia Baru di Piala Dunia 2026, 16 tahun setelah debutnya di Afrika Selatan 2010.
- Selandia Baru tergabung di Grup G bersama Belgia, Mesir, dan Iran, dengan laga perdana melawan Iran di Los Angeles pada 16 Juni.
- Smith mengakui ini mungkin turnamen terakhirnya dan berharap timnya bisa lolos ke fase gugur, berbeda dengan 2010 saat mereka tak terkalahkan namun tersingkir.

Bek veteran Braintree Town, Tommy Smith, mengaku siap menjalani momen puncak kariernya saat bersiap tampil di Piala Dunia 2026 bersama Selandia Baru—sebuah panggilan yang datang 16 tahun setelah debutnya di Afrika Selatan 2010 dan kemungkinan besar menjadi penampilan terakhirnya di panggung sepak bola global.
Pemain berusia 36 tahun yang pernah membela Ipswich Town dan Colchester United itu masuk dalam skuad 26 pemain All Whites asuhan pelatih Darren Bazeley. Tim telah terbang ke Florida sejak bulan lalu untuk menjalani pemusatan latihan. Selandia Baru tergabung di Grup G bersama Belgia, Mesir, dan Iran, dengan markas di San Diego selama turnamen. Laga perdana mereka akan digelar di Los Angeles melawan Iran pada 16 Juni.
Smith, yang lahir di Macclesfield namun menghabiskan masa remaja di Selandia Baru, mengaku ingin menikmati setiap detik turnamen ini. "Saya 36 tahun, dan realistis ini tidak akan terulang lagi. Jadi saya hanya ingin merangkul setiap momen, berkontribusi semaksimal mungkin, dan menikmati seluruh pengalaman," ujarnya kepada BBC Radio Essex. Ia juga menekankan ikatan emosional yang kuat dengan Negeri Kiwi, yang menurutnya semakin diperkuat oleh lingkungan tim nasional yang dibangun staf pelatih.
Meski bersiap menghadapi pemain sekelas Mohamed Salah, Jeremy Doku, dan Kevin De Bruyne, Smith tidak gentar. "Kami sadar status underdog, tapi semoga itu bisa menjadi keuntungan. Saya yakin tim-tim itu tidak akan menganggap remeh kami. Jika mereka melakukannya, mereka akan mendapat kejutan," katanya. Ia menambahkan bahwa skuad All Whites dihuni pemain muda lapar prestasi yang ingin membuktikan diri di panggung dunia.
Perjalanan Smith menuju Piala Dunia ini tidak mudah. Musim lalu ia bermain untuk Auckland City di A-League, finis sebagai pemuncak klasemen domestik namun tersingkir di semifinal. Ia kemudian kembali ke Inggris pada Agustus 2024 untuk bergabung dengan Braintree Town, yang justru terdegradasi dari National League ke divisi enam. "Kami sebagai pemain belum digaji selama sebulan terakhir. Pemilik klub sedang mencari investor untuk melunasi utang. Fans layak mendapatkan yang lebih baik," ungkap Smith.
Saat ditanya soal masa depannya, Smith mengaku belum memutuskan apakah akan pensiun setelah Piala Dunia. "Saya perlu duduk tenang dan mengevaluasi. Saya sudah menjalani karier panjang. Apakah saya ingin mengakhirinya di Piala Dunia? Saya belum mengambil keputusan final." Namun satu hal yang pasti: fokusnya saat ini sepenuhnya pada turnamen yang akan digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada itu.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, perjalanan Smith menjadi pengingat bahwa pemain diaspora bisa menjadi tulang punggung tim nasional. Selandia Baru, seperti Indonesia, kerap mengandalkan pemain kelahiran luar negeri yang memiliki ikatan darah atau tempat tinggal. Keberhasilan Smith menembus dua Piala Dunia dengan latar belakang klub non-elit bisa menjadi inspirasi bagi pemain Indonesia yang berkarier di liga-liga Eropa bawah.
Pertanyaan besarnya: mampukah Selandia Baru memanfaatkan peluang format baru Piala Dunia 2026 yang memberi tiket ke fase gugur bagi empat peringkat ketiga terbaik? Atau akankah sejarah 2010 terulang—tak terkalahkan namun tetap tersingkir?


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7826220/original/089435200_1780645584-rivaldo.jpg)