Topan Jangmi Hantam Tokyo: Banjir Bandang dan Gangguan Penerbangan Meluas
Baca dalam 60 detik
- Topan Jangmi menerjang Tokyo dengan hujan deras setelah mendarat di Wakayama, menyebabkan sungai meluap dan mengganggu transportasi udara serta kereta.
- Badan Meteorologi Jepang mengeluarkan peringatan bahaya banjir level tertinggi di Sungai Koza, sementara 15 orang dilaporkan luka ringan di Okinawa.
- Topan diperkirakan bergerak ke timur, dengan potensi hujan hingga 200 mm di wilayah Tokai dan Kanto-Koshin, meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi.

Topan Jangmi, badai tropis keenam yang melanda Jepang musim ini, menghantam kawasan metropolitan Tokyo pada Rabu pagi dengan curah hujan ekstrem yang memicu peringatan banjir dan longsor. Setelah mendarat di Prefektur Wakayama bagian selatan sekitar pukul 04.30 waktu setempat, sistem tekanan rendah ini bergerak cepat ke timur, membawa dampak destruktif dari Kyushu hingga Kanto.
Badan Meteorologi Jepang (JMA) sempat mengeluarkan peringatan bahaya banjir level 5—peringatan tertinggi—untuk Sungai Koza di Wakayama setelah tanggul mulai diluapi air. Meskipun otoritas setempat mencabut status darurat pada pukul 08.50, ancaman masih terasa di Tokyo dan sekitarnya. Di ibu kota, peringatan bahaya banjir dikeluarkan untuk beberapa sungai, sementara wilayah Shinagawa masuk dalam zona siaga longsor.
Juru Bicara Pemerintah Minoru Kihara melaporkan bahwa pemerintah menerima laporan jalan tergenang, pohon tumbang, dan tanah longsor yang tersebar dari Kyushu hingga Kanto. Hingga pukul 06.00 pagi, sebanyak 15 orang mengalami luka ringan di Prefektur Okinawa dan enam rumah rusak akibat terjangan angin kencang.
Gangguan transportasi menjadi dampak paling terasa bagi warga Tokyo. Japan Airlines (JAL) dan All Nippon Airways (ANA) membatalkan seluruh penerbangan domestik pagi hari dari Bandara Haneda, serta sejumlah rute internasional. Beberapa layanan kereta ekspres JR yang menghubungkan Tokyo dengan daerah lain juga dihentikan sementara. Langkah ini diambil untuk menghindari risiko kecelakaan akibat cuaca buruk yang diprediksi masih akan berlangsung hingga Kamis pagi.
Fenomena pita hujan linier (linear rainband) yang terbentuk di selatan Wakayama menjadi perhatian utama para ahli. Struktur awan ini dikenal mampu memicu hujan deras dalam waktu singkat dan meningkatkan risiko banjir bandang secara tiba-tiba. JMA memperingatkan bahwa jika pita hujan serupa terbentuk di wilayah lain, curah hujan bisa melampaui perkiraan awal.
“Masyarakat di daerah berbahaya harus siap mengungsi kapan saja, bahkan sebelum instruksi resmi dikeluarkan,” demikian pernyataan resmi JMA yang dikutip media setempat.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi siklon tropis yang kerap memengaruhi wilayah barat dan utara Nusantara. Meskipun topan Jangmi tidak berdampak langsung ke Indonesia, pola pergerakan badai di Pasifik Barat dapat memengaruhi cuaca di wilayah timur Indonesia melalui peningkatan curah hujan atau gelombang tinggi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) perlu mencermati perkembangan siklon di Samudra Pasifik untuk memberikan peringatan dini bagi nelayan dan pelayaran.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah seberapa sering fenomena cuaca ekstrem seperti ini akan terjadi seiring perubahan iklim global. Jepang, yang berada di jalur topan Pasifik, telah meningkatkan sistem peringatan dini dan infrastruktur mitigasi, namun tetap menghadapi tantangan dalam melindungi penduduk perkotaan yang padat. Apakah sistem peringatan saat ini cukup cepat dan efektif untuk mengurangi korban jiwa saat badai menerjang? Jawabannya akan terus diuji oleh alam.



