Harimau Amur Tertua Jepang Mati di Kebun Binatang Fukuoka: Pengingat Krisis Konservasi
Baca dalam 60 detik
- Harimau Amur bernama Kai, yang berusia 20 tahun dan menjadi yang tertua di Jepang, ditemukan mati di Kebun Binatang Fukuoka karena usia lanjut.
- Kematian Kai menyoroti kerentanan spesies yang terancam punah ini, dengan hanya tersisa sekitar 500 individu di alam liar akibat perburuan dan hilangnya habitat.
- Populasi harimau Amur di penangkaran menjadi kunci konservasi, namun tantangan genetik dan habitat tetap mengancam keberlangsungan spesies.

Harimau Amur tertua di Jepang, seekor jantan bernama Kai, menghembuskan napas terakhir di Kebun Binatang Fukuoka pada Kamis pagi (5/6) setelah menunjukkan penurunan kondisi fisik sejak Februari lalu. Kematiannya yang diyakini akibat usia lanjut ini menjadi pengingat akan krisis konservasi yang dihadapi subspesies harimau paling langka di dunia tersebut.
Kai, yang lahir pada Mei 2006 di kebun binatang Shizuoka dan dipindahkan ke Fukuoka setahun kemudian, telah menjadi ikon konservasi di Negeri Sakura. Selama hampir dua dekade, ia menjadi duta bagi upaya penyelamatan harimau Amur yang oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN) dikategorikan sebagai spesies terancam punah (endangered).
Penurunan kesehatan Kai mulai terlihat sekitar Februari, saat nafsu makannya menurun drastis. Pihak kebun binatang memutuskan untuk tidak menampilkannya di area publik pada Maret agar ia bisa beristirahat di kandang belakang. Setelah nafsu makannya membaik, Kai sempat kembali ke area pameran luar ruangan pada akhir Mei, namun kondisi tubuhnya yang sudah renta akhirnya tak mampu bertahan.
Kematian Kai membuka diskusi tentang efektivitas konservasi eks-situ (di luar habitat alami) bagi spesies yang terancam punah. Meskipun kebun binatang berperan penting dalam menjaga populasi dan edukasi publik, para ahli mengingatkan bahwa habitat alami harimau Amur terus menyusut akibat deforestasi dan perburuan liar. Di Indonesia, meskipun tidak memiliki harimau Amur, pelajaran serupa dapat ditarik dari upaya konservasi harimau sumatera yang juga berada di ambang kepunahan.
βHarimau Amur adalah simbol ketahanan alam liar, namun tanpa upaya konservasi yang terpadu, mereka bisa punah dalam beberapa dekade,β ujar seorang analis konservasi dari Universitas Kyoto.
Kini, gelar harimau Amur tertua di Jepang beralih ke Miruru, betina 18 tahun di Kebun Binatang Tokuyama. Namun, usia lanjut Miruru juga menjadi pengingat bahwa populasi penangkaran harus terus diperbarui dengan individu-individu baru yang sehat secara genetik. Pertanyaan besarnya: mampukah upaya konservasi global menyelamatkan harimau Amur dari kepunahan di alam liar, atau mereka hanya akan menjadi penghuni kebun binatang selamanya?



