Ferrari Luce: Mobil Listrik Mewah yang Bikin Investor Ciut, Tapi Risikonya Minim
Baca dalam 60 detik
- Peluncuran Ferrari Luce, mobil listrik perdana bermerek kuda jingkrak, memicu penurunan saham 8,4% karena dianggap kurang prospektif.
- Analis memperkirakan penjualan tahunan hanya di bawah 800 unit, setara 6% total produksi Ferrari, sehingga dampak finansialnya terbatas.
- Ferrari tidak terikat aturan Uni Eropa tentang elektrifikasi, sehingga tetap bisa memproduksi mobil konvensional selama permintaan masih ada.

Peluncuran Ferrari Luce, mobil listrik perdana pabrikan asal Italia itu, justru disambut dingin oleh pasar. Saham Ferrari ambles 8,4 persen pada 26 Mei lalu, menandai kekhawatiran investor terhadap langkah elektrifikasi yang dianggap terlalu berani. Namun, jika ditelisik lebih dalam, risiko yang dihadapi Ferrari sebenarnya tidak sebesar yang dibayangkan.
Luce, mobil empat pintu lima kursi yang didesain oleh Sir Jony Ive—mantan kepala desain Apple—dihargai mulai €550.000 atau sekitar Rp9,5 miliar. Bentuknya yang futuristik menuai cemoohan warganet, bahkan muncul meme yang menyindir bahwa mobil ini digerakkan oleh putaran Enzo Ferrari di dalam kuburnya. Namun, di balik reaksi emosional itu, Ferrari memiliki bantalan bisnis yang kokoh.
Analis memperkirakan penjualan Luce tidak akan lebih dari 800 unit per tahun, atau hanya sekitar 6 persen dari total penjualan tahunan Ferrari yang rata-rata 14.000 unit. Dengan kata lain, kegagalan Luce tidak akan mengguncang fondasi perusahaan. Ferrari bahkan memiliki kapasitas produksi berlebih di pabrik e-building canggihnya yang bisa dialihkan untuk model lain kapan saja.
Ferrari juga diuntungkan oleh regulasi Uni Eropa yang tidak mewajibkan pabrikan kecil seperti mereka untuk meningkatkan produksi kendaraan listrik. Artinya, Ferrari tetap bisa menjual mobil bermesin bensin selama masih ada peminat. Apalagi, tren global menuju netral karbon mulai melambat sejak proyek Luce digagas pada 2022, memberikan ruang lebih panjang bagi mesin konvensional.
Dari sisi valuasi, Ferrari diperdagangkan pada kelipatan 24 kali laba prakiraan 2030, setara dengan Hermès—raja barang mewah asal Prancis. Namun, Ferrari memiliki keunggulan: lebih dari 80 persen pendapatannya berasal dari mobil dan suku cadang, sementara Hermès hanya mengandalkan kurang dari separuh pendapatan dari produk eksklusif seperti tas Birkin. Ini membuat Ferrari lebih 'mewah' secara bisnis.
Bagi Indonesia, meski pasar mobil listrik masih bertumbuh, kehadiran Ferrari Luce bisa menjadi sinyal bahwa segmen ultra-mewah tetap optimistis terhadap elektrifikasi. Namun, dengan harga yang selangit, dampaknya terhadap pasar domestik mungkin hanya sebatas gengsi. Pertanyaan besarnya: akankah Ferrari benar-benar berhasil merebut hati kaum superkaya Silicon Valley, atau justru terjebak dalam eksperimen yang terlalu mahal?



