Mesin Penjual Otomatis Kini Hadir di Peron Shinkansen: Camilan Khas Nagoya Bisa Dibeli Saat Menunggu Kereta
Baca dalam 60 detik
- Bankaku Co. memasang mesin penjual otomatis pertama untuk kerupuk udang 'Yukari' di peron Shinkansen Stasiun Nagoya, menawarkan kemasan emas eksklusif seharga 918 yen.
- Langkah ini menjawab kebutuhan pelancong yang kerap kehabisan waktu membeli oleh-oleh, sekaligus menjadi daya tarik wisata baru di kota tersebut.
- Inovasi ritel ini bisa menjadi inspirasi bagi pengelola stasiun di Indonesia untuk menghadirkan produk lokal melalui kanal penjualan non-tradisional.

Stasiun Nagoya, Jepang, kembali menghadirkan inovasi ritel yang memadukan kepraktisan dan pengalaman lokal. Sejak 25 Mei lalu, sebuah mesin penjual otomatis berbalut emas menjajakan kerupuk udang 'Yukari'—oleh-oleh nomor satu di stasiun tersebut—tepat di peron Shinkansen jalur menuju Shin-Osaka dan Hakata. Langkah ini menjadi yang pertama kalinya camilan ikonik buatan Bankaku Co. dijual melalui mesin, bukan di toko souvenir biasa.
Mesin setinggi 182 cm dan lebar 138 cm itu ditempatkan di dekat pintu masuk gerbong nomor 6, area yang selalu ramai penumpang. Produk yang ditawarkan adalah kaleng emas berisi 10 keping kerupuk seharga 918 yen (sekitar Rp 100 ribu). Uniknya, mesin hanya menerima pembayaran nontunai, sejalan dengan tren cashless society di Jepang.
Keputusan Bankaku memasang mesin di peron bukan tanpa alasan. Banyak pelancong yang terburu-buru atau melewatkan kesempatan membeli oleh-oleh di toko dalam stasiun. Dengan mesin ini, penumpang bisa membeli Yukari beberapa menit sebelum kereta berangkat. “Kami berharap mesin ini menjadi spot baru yang menghibur dan bernilai hiburan,” ujar perwakilan humas Bankaku.
Fenomena ini menarik perhatian wisatawan. Seorang perempuan asal Osaka yang tengah berlibur di Nagoya mengaku terkesan. “Saya belum pernah melihat kaleng emas Yukari sebelumnya. Mesinnya mencolok dan terasa sangat 'Nagoya',” katanya. Sentuhan lokal memang sengaja dihadirkan: warna emas melambangkan kemewahan khas kota itu, sementara kerupuk udang merupakan camilan favorit sejak puluhan tahun.
Bagi Indonesia, inovasi serupa bisa diadaptasi di stasiun-stasiun besar seperti Gambir, Pasar Senen, atau Stasiun Surabaya Gubeng. Produk oleh-oleh khas daerah—misalnya keripik singkong, kue basah, atau kopi—dapat dijual melalui mesin otomatis di peron, memudahkan penumpang kereta jarak jauh yang kerap kehabisan waktu berbelanja. Selain itu, sistem cashless juga mendorong digitalisasi transaksi di sektor ritel transportasi.
Ke depan, Bankaku berencana memperluas pemasangan mesin serupa di stasiun-stasiun lain jika respons positif. Pertanyaannya, mampukah inovasi sederhana ini mengubah kebiasaan berbelanja oleh-oleh di Jepang? Atau justru menjadi model bisnis baru yang ditiru negara lain, termasuk Indonesia?



