Pariwisata Thailand Tembus 14 Juta Turis Asing, Malaysia Jadi Motor Utama
Baca dalam 60 detik
- Thailand mencatat 14,03 juta kunjungan wisatawan asing dalam lima bulan pertama 2026, turun tipis 2,3% dibanding periode sama tahun lalu.
- Lonjakan 110% wisatawan Malaysia dalam sepekan terakhir menjadi pendorong utama, didukung libur panjang Idul Fitri dan Vesak Day di Singapura.
- Pasar Singapura naik ke peringkat keempat, sementara China dan India justru mengalami penurunan kunjungan mingguan.

Thailand berhasil mempertahankan momentum pemulihan sektor pariwisatanya dengan menembus angka 14 juta kunjungan wisatawan asing dalam lima bulan pertama tahun ini, meskipun secara tahunan terjadi sedikit penurunan. Data resmi Kementerian Pariwisata dan Olahraga Thailand yang dirilis Selasa (2/6) menunjukkan bahwa sejak 1 Januari hingga 31 Mei 2026, total wisatawan mancanegera mencapai 14.032.649 orang, turun 2,30% dibanding periode yang sama tahun lalu. Nilai belanja wisatawan asing selama periode itu diperkirakan mencapai 679,274 miliar baht.
Menteri Pariwisata dan Olahraga Thailand, Surasak Phancharoenworakul, mengungkapkan bahwa pada pekan terakhir Mei (25β31 Mei), kedatangan wisatawan jarak pendek melonjak signifikan. Sebanyak lebih dari 470.000 wisatawan tercatat masuk, didorong oleh libur panjang di beberapa negara, termasuk perayaan Idul Fitri yang menandai berakhirnya bulan puasa umat Muslim serta perayaan Vesak Day di Singapura yang memberikan long weekend selama tiga hari. Lonjakan paling mencolok berasal dari Malaysia, dengan lebih dari 186.000 wisatawan, meningkat lebih dari 110% dibanding pekan sebelumnya.
Pasar Singapura juga menunjukkan pergeseran signifikan dengan naik ke peringkat keempat sebagai negara asal wisatawan terbesar, dari sebelumnya peringkat keenam. Sementara itu, China dan India justru mengalami penurunan kunjungan mingguan masing-masing sebesar 4,57% dan 4,17%. Namun, secara kumulatif sepanjang bulan Mei, Thailand masih mencatat 2,35 juta kunjungan asing, menunjukkan daya tarik yang tetap kuat di kawasan.
Bagi Indonesia, tren ini memberikan gambaran persaingan pariwisata regional yang semakin ketat. Thailand berhasil memanfaatkan momen libur keagamaan dan budaya untuk menarik wisatawan dari negara tetangga, sementara Indonesia masih bergulat dengan upaya meningkatkan konektivitas dan promosi destinasi. Keberhasilan Thailand dalam mengelola kampanye "Trusted Thailand" untuk membangun citra aman juga menjadi pelajaran berharga bagi industri pariwisata Tanah Air.
Ke depan, pihak berwenang Thailand memperkirakan jumlah wisatawan asing pada pekan berikutnya akan menurun, meskipun faktor pendukung seperti normalisasi harga energi dan penyesuaian tarif sesuai pasar global masih ada. Pertanyaannya, mampukah Thailand mempertahankan laju kunjungan di tengah persaingan destinasi lain di Asia Tenggara, termasuk Indonesia yang terus menggenjot promosi pariwisata?



