Spanyol Menuju Piala Dunia 2026: Juara Eropa Incar Gelar Kedua
Baca dalam 60 detik
- Spanyol lolos ke Piala Dunia 2026 setelah finis sempurna di kualifikasi, hanya sekali imbang.
- Skuad asuhan Luis de la Fuente datang sebagai juara bertahan Euro 2024 dan favorit juara.
- Generasi emas 2010 jadi tolok ukur, namun tim saat ini punya keseimbangan antara pengalaman dan talenta muda.
Spanyol akan tampil di Piala Dunia 2026 sebagai juara Eropa dan salah satu kandidat kuat peraih gelar. Tim asuhan Luis de la Fuente itu sukses melewati babak kualifikasi dengan nyaris sempurna, hanya sekali kehilangan poin saat bermain imbang 2-2 melawan Turki di Sevilla. Kepastian lolos ke Amerika Utara itu menjadi momentum kebangkitan La Roja setelah tersingkir di babak 16 besar Qatar 2022.
Perjalanan Spanyol menuju Piala Dunia ke-17 mereka tak lepas dari transformasi taktik yang diusung De la Fuente. Pelatih yang promosi dari tim U-21 itu memadukan penguasaan bola khas Spanyol dengan serangan balik cepat. Ia juga berhasil mengintegrasikan pemain muda berbakat seperti Lamine Yamal, Nico Williams, dan Pau Cubarsi ke dalam skuad utama. Kombinasi ini membuat Spanyol tidak hanya dominan dalam penguasaan bola, tetapi juga lebih variatif dalam menyerang.
Di Piala Dunia 2026, Spanyol tergabung di Grup C bersama Uruguay, Arab Saudi, dan Cabo Verde. Pertandingan pertama mereka akan berlangsung di Atlanta melawan Cabo Verde pada 15 Juni. Laga melawan Arab Saudi dan Uruguay akan menjadi ujian sesungguhnya, terutama duel melawan Uruguay yang kerap menyulitkan tim Eropa. Namun, dengan materi pemain yang dimiliki, Spanyol diyakini bisa melaju jauh.
Sejarah Spanyol di Piala Dunia tidak lepas dari generasi emas 2010 yang memenangkan trofi di Afrika Selatan. Di bawah asuhan Vicente del Bosque, tim yang dihuni Iker Casillas, Xavi, Andres Iniesta, dan Sergio Ramos itu menampilkan sepak bola tiki-taka yang mendominasi. Gol Iniesta di babak perpanjangan waktu melawan Belanda menjadi momen paling ikonik. Namun, setelah era itu, Spanyol sempat mengalami pasang surut, termasuk kegagalan di Piala Dunia 2014 dan 2018.
Kegagalan di Qatar 2022 menjadi titik balik. Saat itu, Spanyol tampil impresif di fase grup dengan menghancurkan Kosta Rika 7-0, tetapi kemudian kalah dari Jepang dan tersingkir oleh Maroko lewat adu penalti. Kelemahan dalam membongkar pertahanan rapat menjadi pelajaran berharga. Kini, De la Fuente telah memperbaiki kelemahan itu dengan menambah opsi serangan dari sayap dan lini kedua.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, perjalanan Spanyol di Piala Dunia 2026 menarik untuk diikuti karena gaya bermain mereka yang atraktif. Selain itu, kehadiran pemain keturunan atau diaspora Spanyol di Asia Tenggara bisa menjadi jembatan budaya. Namun, yang lebih penting, Spanyol menjadi contoh bagaimana sebuah tim bisa bangkit setelah kegagalan dengan mempertahankan identitas permainan sambil beradaptasi dengan perkembangan taktik modern.
Pertanyaan besarnya: mampukah Spanyol mengulang sukses 2010 di tengah dominasi tim-tim seperti Brasil, Argentina, dan Prancis? Atau justru generasi baru ini akan menciptakan cerita sukses mereka sendiri? Piala Dunia 2026 akan menjadi jawabannya.



