Dua Klub Inggris Berebut Gelandang Muda Aljazair, Impian Premier League Jadi Penentu
Baca dalam 60 detik
- Sunderland dan Hull City saling sikut untuk mendapatkan Yacine Titraoui, gelandang timnas Aljazair yang bersinar di Charleroi.
- Sumber dekat pemain mengungkapkan bahwa Titraoui hanya ingin bermain di Premier League, menolak tawaran dari liga lain.
- Keputusan transfer baru akan diambil setelah Piala Dunia 2026, memberi waktu bagi klub untuk menyusun strategi.

Persaingan merebut tanda tangan Yacine Titraoui, gelandang muda timnas Aljazair, memanas setelah dua klub Championship Inggris, Sunderland dan Hull City, dikabarkan saling dorong untuk mendapatkannya. Pemain berusia 22 tahun itu menjadi rebutan karena performa impresifnya bersama Charleroi di Liga Belgia serta ambisinya yang hanya tertuju pada Premier League.
Menurut laporan dari media Aljazair, Maghreb Foot, kedua klub Inggris tersebut telah menunjukkan minat serius sejak beberapa pekan terakhir. Seorang sumber yang dekat dengan pemain mengonfirmasi bahwa Sunderland dan Hull City sangat menginginkan jasa Titraoui, namun sang pemain memilih untuk fokus penuh pada persiapan Piala Dunia 2026 bersama Aljazair. "Memang benar Sunderland dan Hull City sangat tertarik, tetapi Titraoui sekarang fokus pada Piala Dunia yang semakin dekat," ujar sumber tersebut.
Yang menarik, dalam pernyataannya, sumber itu juga mengungkapkan obsesi Titraoui terhadap Premier League. "Saya tidak akan menyembunyikan bahwa saya berbicara dengan Titraoui, dan dia mengaku kepada saya bahwa mimpinya adalah bermain di Premier League musim lalu dan dia tidak ingin bermain untuk tim lain, di liga lain," tambahnya. Pernyataan ini secara langsung menguntungkan Sunderland yang saat ini berkompetisi di Championship, namun memiliki ambisi promosi ke kasta tertinggi.
Selain Sunderland dan Hull City, sejumlah klub lain juga dikaitkan dengan Titraoui. Marseille dari Ligue 1 dikabarkan memantau perkembangannya, sementara Leeds United, yang musim depan akan kembali berlaga di Championship, juga disebut-sebut memiliki ketertarikan konkret. Wolves, yang terdegradasi ke Championship, sempat menjadi peminat awal tahun ini, namun status mereka sebagai tim divisi kedua membuat peluangnya menipis mengingat keinginan Titraoui yang hanya mau bermain di Premier League.
Titraoui bukanlah nama baru di kancah sepak bola Afrika. Sebelum hijrah ke Charleroi pada 2024, ia mencatatkan 12 gol dan 13 assist dalam 86 penampilan bersama Paradou AC, klub asal Aljazair yang terkenal sebagai pemasok bakat muda. Di Belgia, ia langsung menjadi pemain reguler dan terus mengembangkan kemampuannya sebagai gelandang serba bisa yang mampu berkontribusi di kedua fase permainan. Gaya bermainnya yang teknis dan visi bermain yang baik membuatnya dijuluki sebagai gelandang "luar biasa" oleh beberapa pengamat.
Bagi Sunderland, perburuan Titraoui sejalan dengan strategi rekrutmen klub yang kerap memburu pemain muda berbakat dengan potensi pengembangan jangka panjang. Manajer Regis Le Bris ingin menambah kedalaman skuad di lini tengah setelah musim lalu yang cukup menjanjikan. Namun, persaingan dengan Hull City dan klub lain membuat langkah Sunderland tidak mudah, terutama jika ada klub Premier League yang ikut campur setelah Piala Dunia.
Keputusan akhir mengenai masa depan Titraoui kemungkinan baru akan terungkap setelah gelaran Piala Dunia 2026. Jika ia tampil gemilang bersama Aljazair, bukan tidak mungkin harga dan daftar peminatnya akan melonjak. Pertanyaan besarnya: bisakah Sunderland atau Hull City memenuhi mimpinya bermain di Premier League sebelum klub-klub papan atas Eropa datang menjemput?



