Habiburokhman: Kritik Dino Patti Djalal soal Kunjungan LN Pr
Baca dalam 60 detik
- Jakarta β Wakil Ketua Umum Partai Gerindra sekaligus Ketua Komisi III DPR RI, Habiburokhman, menanggapi keras kritik yang dilontarkan mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal, terkait intensitas kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto. Habiburokhman menilai kritik tersebut tidak konstruktif dan kurang etis disampaikan oleh seorang mantan pejabat tinggi negara.
- "Di era demokrasi dan keterbukaan, tentu kita senantiasa membuka diri terhadap kritik, termasuk dari mantan pejabat tinggi, seperti Dino Patti Djalal," ujar Habiburokhman kepada wartawan, Selasa (2/6/2026). "Namun demikian, sebagai sesama anak bangsa, saya harus mengkritik balik Dino. Kritik beliau tidak produktif karena tidak berbasis info yang akurat, bahkan ada tendensi kritik beliau sebagai serangan politik yang membabi buta dan sekadar mengolok-olok pemerintahan Pak Prabowo," sambungnya.
- Menurut Habiburokhman, usulan Dino agar Presiden Prabowo lebih banyak mengundang pemimpin negara lain ke Indonesia dibandingkan melakukan kunjungan ke luar negeri dinilai kurang tepat. Dalam situasi global yang penuh ketidakpastian saat ini, kepala negara dinilai perlu aktif melakukan diplomasi langsung. Ia mencontohkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang melakukan kunjungan ke China untuk memperjuangkan kepentingan negaranya.

Jakarta β Wakil Ketua Umum Partai Gerindra sekaligus Ketua Komisi III DPR RI, Habiburokhman, menanggapi keras kritik yang dilontarkan mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal, terkait intensitas kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto. Habiburokhman menilai kritik tersebut tidak konstruktif dan kurang etis disampaikan oleh seorang mantan pejabat tinggi negara.
"Di era demokrasi dan keterbukaan, tentu kita senantiasa membuka diri terhadap kritik, termasuk dari mantan pejabat tinggi, seperti Dino Patti Djalal," ujar Habiburokhman kepada wartawan, Selasa (2/6/2026). "Namun demikian, sebagai sesama anak bangsa, saya harus mengkritik balik Dino. Kritik beliau tidak produktif karena tidak berbasis info yang akurat, bahkan ada tendensi kritik beliau sebagai serangan politik yang membabi buta dan sekadar mengolok-olok pemerintahan Pak Prabowo," sambungnya.
Menurut Habiburokhman, usulan Dino agar Presiden Prabowo lebih banyak mengundang pemimpin negara lain ke Indonesia dibandingkan melakukan kunjungan ke luar negeri dinilai kurang tepat. Dalam situasi global yang penuh ketidakpastian saat ini, kepala negara dinilai perlu aktif melakukan diplomasi langsung. Ia mencontohkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang melakukan kunjungan ke China untuk memperjuangkan kepentingan negaranya.
"Menurut kami, justru Presiden Prabowo harus sangat proaktif, baik menerima kunjungan maupun juga mengunjungi pemimpin negara lain," tegas Habiburokhman. Ia menambahkan, sebagai mantan Wamenlu, Dino dinilai kurang etis mengkritik kinerja politik luar negeri pemerintahan Prabowo.
Habiburokhman juga memperingatkan bahwa kritik dari mantan pejabat kepada penerusnya berpotensi menjadi bumerang. "Di negara-negara maju, mantan pejabat membatasi diri untuk mengkritik kinerja para penerus atau penggantinya. Hal tersebut didasarkan pada sikap menghormati orang yang sedang bekerja. Kritik mantan pejabat kepada penerusnya bahkan bisa menjadi bumerang jika publik membandingkan kinerja si mantan dengan yang sedang menjabat," tuturnya.
Sebelumnya, Dino Patti Djalal menyampaikan pandangannya melalui video yang diunggah di akun media sosialnya pada Sabtu (30/5). Dalam video tersebut, Dino menilai Presiden Prabowo sebagai kepala negara yang paling sering melakukan perjalanan ke luar negeri sejak menjabat. "Dalam perhitungan kami, dari seluruh pemimpin dunia, Presiden Prabowo telah menjadi kepala negara yang paling sering melakukan perjalanan ke luar negeri. Semenjak menjabat menjadi Presiden, 1 dari 6 hari dihabiskan beliau di luar negeri," kata Dino.
Dino juga menyoroti besarnya biaya yang dikeluarkan untuk setiap perjalanan dinas luar negeri, mulai dari biaya rombongan, pesawat, hotel, hingga protokoler. Ia menyarankan agar Prabowo lebih mengandalkan komunikasi virtual seperti video call atau Zoom call untuk menjaga hubungan dengan pemimpin dunia lainnya.



