Jepang dan China Buka Jalur Diplomasi Setelah Ketegangan Taiwan, Isyarat Pertemuan Puncak APEC?
Baca dalam 60 detik
- Menteri Luar Negeri Jepang dan China melakukan kontak langsung pertama sejak November lalu, setelah pernyataan PM Takaichi soal Taiwan memicu sanksi Beijing.
- Pembicaraan singkat di sela pertemuan ASEAN di Manila ini dinilai sebagai langkah awal mencairkan hubungan yang sempat beku.
- Kontak ini membuka peluang pertemuan antara PM Takaichi dan Presiden Xi Jinping di KTT APEC November mendatang.

Menteri Luar Negeri Jepang, Toshimitsu Motegi, mengonfirmasi telah berbincang singkat dengan mitranya dari China, Wang Yi, di sela pertemuan ASEAN di Manila, Kamis (23/7). Ini menjadi kontak pertama antara kedua diplomat sejak November lalu, ketika pernyataan Perdana Menteri Sanae Takaichi tentang kemungkinan respons Jepang terhadap serangan ke Taiwan memicu reaksi keras Beijing.
Motegi menyebut perbincangan itu terjadi secara tidak sengaja saat keduanya berpapasan di antara agenda pertemuan terpisah dengan para menteri ASEAN. Ia enggan merinci isi pembicaraan, namun menegaskan bahwa Jepang selalu terbuka untuk dialog dengan China di semua level, meskipun hubungan bilateral sedang tegang. “Mengingat peran penting Jepang dan China dalam perdamaian kawasan, sangat penting bagi kita untuk terus berdialog,” ujar Motegi kepada wartawan di Manila.
Pertemuan ini menjadi sorotan karena dapat menjadi batu loncatan menuju pertemuan puncak antara PM Takaichi dan Presiden Xi Jinping di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) di Shenzhen, China, pada November mendatang. Sejak pernyataan Takaichi di parlemen November lalu yang menyebut serangan China ke Taiwan sebagai “situasi yang mengancam kelangsungan hidup Jepang”, Beijing merespons dengan menekan Tokyo melalui larangan perjalanan bagi warganya dan pembatasan ekspor tanah jarang serta barang-barang penggunaan ganda.
Di sisi lain, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, enggan mengonfirmasi adanya kontak antara Wang Yi dan Motegi. Ia hanya menyatakan bahwa Wang tidak memiliki rencana untuk mengadakan pembicaraan resmi dengan pihak Jepang. Pernyataan ini menunjukkan masih adanya jarak dan kehati-hatian dari Beijing, meskipun ada isyarat diplomatis dari Manila.
Motegi juga mengungkapkan bahwa ia sempat berbicara singkat dengan Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, pada jamuan makan malam ASEAN, Selasa lalu. Ini merupakan kontak pertama antara kedua menteri sejak invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022. “Kami bertukar pandangan tentang hubungan bilateral dan isu regional,” kata Motegi, seraya menambahkan bahwa meskipun hubungan Jepang-Rusia sulit, komunikasi antarpemerintah dan pertukaran budaya tetap penting.
Sementara itu, dalam pertemuan China-ASEAN, Wang Yi menyerukan agar negara-negara Asia Tenggara “tidak pernah membiarkan militerisme bangkit kembali,” yang ditafsirkan sebagai kritik terhadap kebijakan penguatan pertahanan Jepang di bawah PM Takaichi. Wang juga mendesak ASEAN untuk “menolak keras campur tangan eksternal yang tidak adil” dan menentang pembentukan “kelompok-kelompok kecil yang eksklusif,” yang tampaknya merujuk pada aliansi Quad (AS, Jepang, Australia, India).
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki implikasi langsung. Sebagai anggota ASEAN dan mitra strategis baik Jepang maupun China, Indonesia berkepentingan menjaga stabilitas kawasan. Ketegangan di Laut China Selatan dan rivalitas AS-China kerap menempatkan ASEAN di posisi sulit. Langkah Jepang yang mencoba membuka kembali jalur komunikasi dengan China dapat menjadi contoh bagi negara-negara kawasan untuk tetap mengedepankan diplomasi di tengah persaingan kekuatan besar. Pertemuan APEC di Shenzhen nanti akan menjadi ujian apakah isyarat diplomatis ini benar-benar membuahkan hasil nyata atau hanya sekadar basa-basi di sela forum multilateral.



