Menyatukan Rasa Nusantara: Pameran Kuliner Terbesar Myanmar Dorong Pariwisata Gastronomi
Baca dalam 60 detik
- Ajang yang digelar Asosiasi Restoran Myanmar ini menampilkan 125 stan dari berbagai daerah etnis dan tujuh restoran dalam kompetisi hidangan fine dining.
- Pameran ini tidak hanya menjadi etalase kuliner, tetapi juga forum pengembangan usaha bagi UMKM dan produsen lokal melalui sesi diskusi dan networking.
- Inisiatif ini dinilai sebagai langkah strategis untuk memperkenalkan kekayaan rasa dan budaya Myanmar ke dunia, sekaligus membuka peluang ekonomi baru.

Lebih dari seratus stan dan tujuh rumah makan serta hotel papan atas berlomba dalam ajang Pameran dan Lomba Makanan Tradisional Myanmar di Yangon, Sabtu (26/7), sebagai upaya pemerintah memopulerkan kekayaan kuliner Nusantara Myanmar ke panggung global.
Acara dua hari yang digelar di bawah naungan Kementerian Perhotelan, Pariwisata, dan Kebudayaan serta Asosiasi Restoran Myanmar (MRA) ini menjadi yang terbesar di negara tersebut. U Zayyar Myo Aung, direktur jenderal pariwisata kementerian, mengatakan perhelatan ini dirancang untuk mengerek wisata gastronomi. Tidak hanya sekadar pameran, tujuh restoran dan hotel berpartisipasi dalam lomba menyajikan menu fine-dining bercita rasa tradisional.
Daw Sanda Khin, pendiri Myanmar Cultural Heritage Trust, menekankan bahwa makanan adalah pintu masuk untuk mengenal budaya. Menurutnya, Myanmar dengan puluhan kelompok etnis memiliki khazanah rasa yang luar biasa, tetapi masih kurang dikenal secara internasional. "Semakin kami mempromosikan makanan, semakin orang asing tertarik mengenal negeri ini," ujarnya. Ia menambahkan, acara semacam ini mampu mendorong restoran kecil dan besar, meningkatkan pariwisata, serta menciptakan lapangan kerja baru.
Para peserta dari berbagai daerah seperti Kayin, Ayeyarwady, dan Bagan turut memamerkan produk khas masing-masing. Saw Aung Kyaw Nyein dari Kayin menyuguhkan kerajinan tangan dan pakaian adat, sekaligus mempromosikan Hpa-An sebagai tujuan wisata. Sementara itu, May Zin Oo dari Ayeyarwady membawa ikan kering yang disajikan bersama ketan khas Myanmar, dan mengaku acara ini menjadi ajang networking berharga bagi para pelaku UMKM. "Kami bisa saling belajar cara memajang dan memasarkan produk, serta menjalin koneksi bisnis baru," tuturnya.
Pameran ini juga menjadi panggung bagi produk-produk lokal non-kuliner. Khin Maung Htay, peserta asal Bagan, memamerkan gula aren, olahan asam jawa, kerajinan lacquer, dan lukisan pasir. Ia mengaku bangga karena acara ini tidak hanya mempromosikan makanan, tetapi juga produk khas daerah Bagan yang merupakan Situs Warisan Dunia UNESCO. "Pengunjung bisa menikmati aneka makanan, pakaian, dan produk dari berbagai etnis dalam satu atap," ujarnya.
Bagi Indonesia, gelaran ini menjadi pengingat akan potensi besar kuliner tradisional dalam menarik wisatawan. Sejumlah provinsi di Tanah Air, seperti Bali dan Yogyakarta, telah sukses mengemas festival makanan daerah sebagai daya tarik wisata. Namun, Myanmar menunjukkan bahwa promosi kuliner juga bisa menjadi strategi untuk memberdayakan UMKM dan memperkuat identitas budaya di tengah tekanan globalisasi. Pelajaran yang bisa dipetik adalah pentingnya kolaborasi lintas sektor—pemerintah, asosiasi, dan komunitas—dalam mengangkat cita rasa lokal ke pentas dunia.
Nay Zaw Aung, sekretaris jenderal MRA, berharap ajang ini mampu memperluas industri makanan dan minuman Myanmar serta menciptakan lebih banyak kesempatan bagi para pelaku usaha. "Makanan membawa kebahagiaan. Melalui acara ini, vendor bisa mempromosikan produk, dan pengunjung mendapat apresiasi lebih dalam terhadap budaya makanan kami," tutupnya. Dengan berakhirnya acara pada Minggu (27/7), pertanyaan besarnya adalah: akankah langkah serupa diadopsi secara reguler untuk menjaga momentum promosi kuliner Nusantara Myanmar?



