Pepohonan Bisa Turunkan Suhu Kota hingga 18°C, Asalkan Ditata dengan Tepat
Baca dalam 60 detik
- Penelitian di tiga kota dunia menunjukkan vegetasi berlapis—pohon, semak, dan penutup tanah—lebih efektif menurunkan panas ketimbang pohon saja.
- Di Melbourne, pohon jalanan mengurangi panas radiasi yang dirasakan pejalan kaki hingga 18°C, sementara Munich mencatat penurunan 8°C dengan tanaman berlapis.
- Namun, di Hong Kong yang lembap, vegetasi padat justru meningkatkan kelembapan dan mengurangi kenyamanan, menandakan desain penghijauan harus disesuaikan dengan iklim lokal.

Penghijauan perkotaan yang selama ini dianggap sebagai solusi universal untuk meredam panas ternyata tidak sesederhana menanam pohon sebanyak-banyaknya. Sebuah studi terbaru yang membandingkan pengukuran lapangan di Melbourne, Munich, dan Hong Kong mengungkapkan bahwa efektivitas vegetasi dalam menurunkan suhu sangat bergantung pada struktur tanaman, iklim setempat, dan tata ruang jalan.
Peneliti dari berbagai universitas tersebut mengukur tidak hanya suhu udara, tetapi juga “mean radiant temperature”—panas yang dipancarkan permukaan seperti aspal dan dinding ke tubuh manusia. Hasilnya, di Melbourne, pohon jalanan mampu mengurangi panas radiasi hingga lebih dari 18°C dibandingkan area terbuka tanpa tanaman. Namun, penurunan suhu udara itu sendiri hanya sedikit; yang membuat perbedaan besar adalah naungan dan pengurangan radiasi.
Di Munich, vegetasi berlapis—kombinasi pohon, semak, dan penutup tanah—terbukti paling efektif, menurunkan tekanan panas sore hari hampir 8°C. Sementara itu, Hong Kong yang beriklim subtropis lembap menunjukkan hasil yang lebih beragam. Kanopi pohon yang rapat memang memberikan naungan, tetapi kelembapan tambahan dari transpirasi tanaman justru membuat udara terasa lengket dan mengurangi kenyamanan karena keringat sulit menguap.
Temuan ini menjadi peringatan bagi kota-kota di dunia, termasuk Indonesia, yang kerap mengejar target kanopi tanpa mempertimbangkan desain. Di Jakarta, Surabaya, atau Bandung, program penghijauan sering kali hanya berfokus pada penanaman pohon di pinggir jalan tanpa memperhatikan lapisan bawah atau sirkulasi udara. Padahal, di koridor jalan sempit yang padat bangunan, vegetasi yang terlalu rapat justru bisa menghambat angin dan memerangkap polusi kendaraan, seperti yang terjadi di beberapa jalan di Munich.
Menurut para peneliti, strategi penghijauan yang efektif harus disesuaikan dengan iklim lokal. Di kota dengan kelembapan tinggi seperti Jakarta, pemilihan jenis tanaman yang tidak terlalu banyak menguapkan air dan pengaturan jarak tanam yang memberi ruang bagi angin menjadi kunci. Sementara itu, di daerah kering, kombinasi pohon dengan semak dan penutup tanah dapat memberikan pendinginan tambahan melalui evapotranspirasi.
Implikasinya, pemerintah daerah perlu mengubah tolok ukur keberhasilan dari sekadar jumlah pohon yang ditanam menjadi kualitas ruang hijau yang dirasakan warga. Desain yang mempertimbangkan arah angin, lebar jalan, dan jenis vegetasi akan lebih efektif menekan suhu dan meningkatkan kenyamanan termal. Dengan suhu global yang terus meningkat, investasi pada penghijauan yang cerdas iklim bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.
Ke depan, riset lebih lanjut diperlukan untuk menguji kombinasi tanaman yang optimal di berbagai iklim tropis seperti Indonesia. Apakah model vegetasi berlapis yang sukses di Munich bisa diadaptasi di kota-kota Indonesia tanpa efek samping kelembapan? Atau justru diperlukan pendekatan baru yang mengutamakan naungan dan sirkulasi udara? Pertanyaan ini menanti jawaban dari para perencana kota dan peneliti lokal.



