Kontroversi Foto dengan Penguasa UAE: Iran Coret Azmoun dari Skuad Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Sardar Azmoun, pencetak gol terbanyak ketiga Iran, tidak masuk skuad Piala Dunia 2026 setelah foto bersama penguasa UAE dianggap sebagai bentuk ketidaksetiaan politik.
- Keputusan ini diambil di tengah ketegangan Iran dengan AS dan Israel, serta kekhawatiran keamanan yang membuat Iran memindahkan basis ke Meksiko.
- Tanpa Azmoun, Iran mengandalkan Mehdi Taremi dan Alireza Jahanbakhsh untuk menghadapi laga uji coba melawan Selandia Baru, Belgia, dan Mesir.

Pelatih tim nasional Iran, Amir Ghalenoei, secara resmi mencoret Sardar Azmoun dari skuad Piala Dunia 2026, menyusul laporan bahwa sang striker dianggap melakukan tindakan tidak setia kepada pemerintah Iran. Keputusan ini diambil di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan kekhawatiran keamanan yang memaksa Iran mengubah rencana persiapan turnamen.
Azmoun, yang bermain untuk Shabab Al-Ahli di Uni Emirat Arab (UAE), dilaporkan membuat marah penguasa Iran setelah mengunggah foto bersama Penguasa UAE, Mohammed bin Rashid Al Maktoum, pada Maret lalu. Langkah itu dinilai sensitif mengingat konflik bersenjata antara Iran dan AS-Israel, di mana fasilitas di UAE sempat menjadi sasaran serangan Iran. Bagi rezim Teheran, kedekatan dengan penguasa UAE dianggap sebagai bentuk pengkhianatan politik.
Keputusan ini bukan pertama kali Azmoun dicoret. Sebelumnya, ia juga tidak masuk dalam skuad awal. Dengan 57 gol dalam 91 penampilan, Azmoun adalah pencetak gol terbanyak ketiga sepanjang sejarah Iran. Kehilangan sosoknya menjadi pukulan berat bagi lini depan Iran yang tengah mempersiapkan diri menghadapi turnamen empat tahunan tersebut.
Iran sendiri akan memulai Piala Dunia 2026 pada 11 Juni mendatang, yang digelar bersama oleh AS, Kanada, dan Meksiko. Namun, hubungan diplomatik yang tegang membuat Iran memindahkan basis mereka ke Meksiko. Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum, bahkan menyatakan bahwa AS tidak bersedia menjadi tuan rumah bagi tim Iran. Langkah ini menambah dimensi politik yang rumit dalam persiapan tim.
Dalam skuad yang diumumkan, Iran tetap mengandalkan nama-nama seperti Mehdi Taremi (Olympiakos) dan Alireza Jahanbakhsh (Dender). Taremi, yang kini berusia 33 tahun, menjadi andalan utama di lini depan. Sementara itu, Jahanbakhsh, mantan pemain Brighton, diharapkan memberikan pengalaman di sayap. Keduanya akan menjadi tumpuan untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan Azmoun.
Keputusan ini memicu perdebatan di kalangan pengamat sepak bola. Sebagian menilai langkah Ghalenoei terlalu politis dan merugikan performa tim. Namun, di sisi lain, keputusan tersebut mencerminkan betapa besarnya pengaruh politik dalam sepak bola Iran, terutama di tengah situasi geopolitik yang memanas. Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat betapa rentannya olahraga terhadap tekanan politik, terutama di negara-negara dengan rezim otoriter.
Ke depan, Iran akan menghadapi tiga laga uji coba melawan Selandia Baru, Belgia, dan Mesir. Tanpa Azmoun, efektivitas serangan Iran akan diuji. Akankah Taremi dan kawan-kawan mampu membuktikan bahwa mereka tetap kompetitif tanpa sang bintang? Atau justru keputusan ini akan menjadi bumerang bagi peluang Iran melaju jauh di Piala Dunia?



