FIFA Larang Botol Minum di Stadion Piala Dunia 2026, Picu Kekhawatiran Suhu Ekstrem
Baca dalam 60 detik
- FIFA mencabut izin membawa botol minum isi ulang ke stadion Piala Dunia 2026, tujuh hari sebelum kick-off, dengan alasan keamanan.
- Kebijakan ini menuai kritik dari kelompok suporter Inggris yang menilai langkah tersebut sebagai upaya komersialisasi di tengah peringatan ilmuwan tentang risiko panas ekstrem di 14 dari 16 venue.
- Implikasinya, penggemar di Indonesia yang berencana menonton langsung harus bersiap membeli air di stadion dengan harga yang dijanjikan tidak melambung.

FIFA secara mendadak melarang suporter membawa botol minum isi ulang ke dalam stadion Piala Dunia 2026, hanya sepekan sebelum turnamen dimulai pada 11 Juni. Keputusan ini membalikkan aturan sebelumnya yang justru memperbolehkan botol plastik transparan kosong berkapasitas maksimal satu liter.
Dalam pernyataan resminya, badan sepak bola dunia itu beralasan larangan tersebut demi menekan risiko cedera akibat lemparan benda asing dari penonton. Botol, gelas, stoples, dan kaleng masuk dalam daftar barang yang dilarang. FIFA menegaskan komitmennya melindungi keselamatan pemain, wasit, dan penggemar.
Kebijakan ini sontak memicu reaksi keras, terutama dari kelompok suporter Inggris, Free Lions. Mereka menyebut perubahan aturan yang mendadak itu aneh dan mencurigakan. "Dalam semua diskusi kami, ketersediaan air gratis di stadion menjadi poin utama, dan kami diyakinkan FIFA bahwa penggemar bisa membawa botol sendiri," tulis mereka di media sosial. Kekhawatiran utama suporter adalah langkah ini hanya dalih untuk meraup untung lebih banyak, apalagi suhu di 14 dari 16 venue diprediksi melampaui ambang batas aman.
FIFA membantah tuduhan komersialisasi. Mereka menyatakan akan menyediakan stasiun pengisian air minum, kabut pendingin, kipas angin, dan tenda pendingin di sekitar stadion. Harga air minum kemasan di dalam venue disebut konsisten dengan acara-acara lain. Namun, para ilmuwan sebelumnya telah memperingatkan bahwa langkah mitigasi panas FIFA dinilai tidak memadai.
Bagi penggemar asal Indonesia yang berniat menyaksikan langsung Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada, kebijakan ini menambah daftar tantangan. Selain harga tiket yang sudah dikeluhkan mahal, mereka kini harus merogoh kocek lebih untuk membeli air di stadion atau mengantre di stasiun pengisian air. Belum lagi potensi kenaikan tarif kereta api yang juga dikeluhkan suporter.
Keputusan FIFA ini mengundang pertanyaan: apakah keselamatan benar-benar menjadi prioritas utama, atau justru langkah ini akan memicu protes lebih luas di tengah sorotan terhadap biaya penyelenggaraan yang membengkak? Yang jelas, suporter harus bersiap beradaptasi dengan aturan baru yang kontroversial ini.



