Andrew McCarthy: Alkohol Hancurkan Karier, Bukan Popularitas
Baca dalam 60 detik
- Aktor era 80-an Andrew McCarthy mengaku alkohol menghancurkan kariernya, meski ia tidak menyalahkan ketenaran sebagai pemicu kecanduan.
- McCarthy telah sadar sejak 1992, butuh waktu bertahun-tahun untuk pulih dan kembali membangun karier setelah masa-masa kelam.
- Ia berterima kasih pada Ted Danson karena serial Cheers secara tak langsung membantunya dan sesama pasien rehabilitasi untuk saling terikat dan berhenti minum.

Andrew McCarthy, aktor yang namanya melambung lewat film Pretty in Pink dan menjadi bagian dari Brat Pack era 1980-an, secara terbuka mengakui bahwa alkohol telah menghancurkan kariernya sepenuhnya. Namun, ia menolak anggapan bahwa popularitaslah yang menjadi biang keladi kecanduannya. Dalam wawancara dengan Ted Danson di podcast Where Everybody Knows Your Name, McCarthy yang kini berusia 63 tahun menceritakan bagaimana minuman keras mengubah arah hidupnya.
McCarthy mengaku bahwa kebiasaan minumnya dimulai saat ia masih aktif membintangi film-film remaja ikonik. "Saya baru mulai minum saat syuting film-film itu, dan saya yakin itu menghancurkan karier saya sepenuhnya," ujarnya. Ia menambahkan, bukan hanya aktivitas minum itu sendiri, tetapi juga tahun-tahun pemulihan yang panjang membuatnya kehilangan momentum. "Saya begitu linglung selama bertahun-tahun setelahnya, dan pada saat itu, momen keemasan saya sudah berlalu. Saya tidak punya kemampuan untuk menentukan langkah selanjutnya," kata McCarthy.
Bintang yang pernah satu layar dengan Rob Lowe, Molly Ringwald, dan Demi Moore ini menegaskan bahwa ketenaran bukanlah penyebab alkoholismenya. "Orang selalu bilang, 'Kamu terlalu muda, terlalu sukses, itu terlalu berat untukmu, jadi kamu minum.' Saya jawab, 'Tidak, saya akan tetap minum. Hanya saja saya mampu membeli vodka yang lebih baik,'" ujarnya dengan nada sinis. Pernyataan ini mematahkan stereotip bahwa tekanan popularitas selalu menjadi pemicu penyalahgunaan zat.
McCarthy telah menjalani hidup sadar sejak 1992, setelah menjalani rehabilitasi di Minnesota. Dalam momen yang mengharukan, ia mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Ted Danson, yang tidak disangka-sangka berperan penting dalam pemulihannya. Saat di rehabilitasi, para pasien kesulitan untuk saling terikat karena perbedaan latar belakang. Namun, seorang pasien menemukan bahwa serial Cheers—yang dibintangi Danson—tayang setiap malam pukul tujuh. "Setelah konselor pulang, kami berkumpul dan menonton Cheers. Kami duduk dan menghitung minuman para karakter, membahas bagaimana mereka membuat minuman—siapa yang menuang banyak, siapa yang tidak. Kami benar-benar terikat karena aspek alkohol dalam Cheers. Itu mengubah hidup saya, dan saya tidak pernah minum lagi sejak saat itu," kenang McCarthy.
Kisah McCarthy menyoroti kompleksitas kecanduan di kalangan selebritas. Di Indonesia, isu serupa juga kerap muncul di industri hiburan, di mana tekanan popularitas dan gaya hidup glamor sering dikaitkan dengan penyalahgunaan alkohol dan narkoba. Namun, pengakuan McCarthy bahwa ketenaran bukanlah pemicu utama memberikan perspektif baru: kecanduan bisa menimpa siapa saja, terlepas dari status sosial. Hal ini relevan dengan kampanye kesehatan mental yang semakin digalakkan di Tanah Air, di mana stigma terhadap pecandu perlahan mulai terkikis.
McCarthy sendiri kini telah bangkit kembali. Selain terus berakting, ia juga menjadi sutradara dan penulis perjalanan. Kisahnya menjadi pengingat bahwa pemulihan dari kecanduan adalah proses panjang yang membutuhkan dukungan, bahkan dari hal-hal tak terduga seperti sebuah acara televisi. Pertanyaannya kini: mampukah industri hiburan Indonesia menyediakan ruang aman bagi para artis yang berjuang melawan kecanduan, tanpa menghakimi atau mengorbankan karier mereka?



