Rupert Everett: Kejaran Tubuh Sempurna Hollywood Berujung Hampir Lumpuh
Baca dalam 60 detik
- Aktor Rupert Everett mengaku hampir lumpuh akibat obsesi membentuk tubuh ideal ala bintang Hollywood di masa jayanya.
- Ia menyesali kurangnya peregangan saat latihan beban yang kini menyebabkan masalah muskuloskeletal parah.
- Pengalaman Everett menjadi pengingat akan harga mahal dari tekanan fisik dan mental di industri hiburan global.

Kejaran tanpa henti terhadap fisik ideal ala bintang Hollywood telah membuat aktor kawakan Rupert Everett, 67 tahun, hampir lumpuh. Dalam wawancara dengan The Guardian, ia mengakui bahwa ambisi membentuk tubuh sempurna di puncak kariernya pada era 1990-an justru menghancurkan kesehatannya secara permanen.
Everett, yang dikenal lewat perannya dalam film My Best Friend's Wedding dan Shakespeare in Love, menceritakan bagaimana ia mengabaikan peregangan saat latihan beban. "Saya tidak pernah repot melakukan hal-hal seperti peregangan yang diperlukan untuk angkat beban, karena tendon Anda semakin kencang," ujarnya. "Sekarang kehancuran saya akan bersifat muskuloskeletal, saya rasa."
Masa keemasan Everett sebagai idola Hollywood hanya berlangsung singkat, yang ia sebut sebagai "tahun Hollywood saya". Meskipun pernah dianggap sebagai salah satu bintang paling menarik di layar lebar, ia mengaku perasaan tidak aman terus menghantuinya. "Kesombongan seringkali merupakan perasaan tidak aman yang mendalam, bukan perasaan betapa hebatnya saya," katanya.
Kisah Everett mencerminkan tekanan berat yang dihadapi aktor Hollywood untuk mempertahankan penampilan fisik tertentu. Di Indonesia, fenomena serupa juga terjadi di industri hiburan, di mana standar kecantikan dan kebugaran seringkali tidak realistis. Banyak artis Tanah Air yang menjalani diet ketat atau operasi plastik demi memenuhi ekspektasi publik, tanpa memikirkan dampak jangka panjang terhadap kesehatan.
Menurut psikolog klinis dari Universitas Indonesia, Dr. Andini, tekanan untuk tampil sempurna dapat memicu gangguan citra tubuh dan kecemasan. "Kasus seperti Everett adalah pengingat bahwa kesehatan fisik dan mental harus menjadi prioritas, bukan sekadar penampilan," ujarnya. Industri hiburan, baik di Hollywood maupun Indonesia, perlu mendorong standar yang lebih sehat dan inklusif.
Saat ini, Everett mengaku tidak lagi tertarik pada kehidupan klub malam yang dulu mendominasi masa mudanya. "Saya bisa dengan senang hati duduk hanya menonton musim semi," katanya. Pernyataan ini menunjukkan perubahan drastis dari masa lalu yang penuh gemerlap. Pertanyaannya, apakah industri hiburan akan belajar dari pengalaman pahit para bintangnya, atau terus memproduksi cerita serupa di masa depan?



