Zverev Melaju ke Perempat Final Prancis Terbuka: Peluang Emas Raih Gelar Grand Slam Pertama
Baca dalam 60 detik
- Alexander Zverev mengalahkan Jesper de Jong tiga set langsung, menembus perempat final Roland Garros untuk keenam kalinya berturut-turut.
- Absennya Sinner, Djokovic, dan Alcaraz membuka jalan bagi Zverev yang belum pernah juara Grand Slam meski tiga kali menjadi finalis.
- Zverev hanya kehilangan sembilan game dalam tiga kemenangan straight set, menghemat energi di tengah persaingan yang mulai longgar.

Alexander Zverev semakin kokoh sebagai kandidat terkuat juara Prancis Terbuka 2025 setelah menundukkan Jesper de Jong 7-6 (7-3), 6-4, 6-1 di babak keempat, Selasa (3/6). Kemenangan ini membawanya ke perempat final Roland Garros untuk tahun keenam beruntun, sekaligus memperpanjang momentum di tengah absennya sejumlah unggulan teratas.
Unggulan kedua asal Jerman itu tampil tanpa gugup di lapangan Philippe-Chatrier. Meski sempat tertinggal 0-3 di set pertama, Zverev bangkit dengan memenangi tujuh poin beruntun dalam tie-break. Ia hanya butuh 24 menit untuk menuntaskan set ketiga, menunjukkan dominasi servis dan permainan net yang mematikan.
Kemenangan ini mengakhiri perjalanan terbaik De Jong di Grand Slam. Petenis Belanda yang masuk undian utama sebagai lucky loser itu akan naik ke peringkat 100 besar dunia meski kalah di hari ulang tahunnya yang ke-26. Zverev selanjutnya akan berhadapan dengan Rafael Jodar, pemain Spanyol berusia 19 tahun yang bangkit dari ketertinggalan dua set untuk mengalahkan Pablo Carreno Busta.
Peluang Zverev meraih gelar Grand Slam pertamanya belum pernah sebesar ini. Dengan tersingkirnya petenis nomor satu dunia Jannik Sinner dan Novak Djokovic di pekan pertama, ditambah juara bertahan Carlos Alcaraz yang absen karena cedera, peta persaingan di puncak undian laki-laki menjadi longgar. Zverev adalah satu dari tiga pemain yang pernah tampil di final major dan satu-satunya yang sudah memenangi sembilan gelar di permukaan tanah liat.
Bagi publik tenis Indonesia, performa Zverev menjadi sorotan karena turnamen ini kerap dijadikan tolok ukur bagi petenis Asia Tenggara yang berlatih di Eropa. Meski tak ada wakil Indonesia di Roland Garros tahun ini, dominasi pemain-pemain top seperti Zverev memberikan gambaran level yang harus dikejar. Federasi Tenis Indonesia (Pelti) bisa menjadikan konsistensi Zverev sebagai studi kasus dalam pengembangan atlet muda.
“Permainan saya sudah ada. Tinggal menunjukkannya di lapangan pertandingan,” ujar Zverev seusai laga. Ia mengakui awal pertandingan sulit karena De Jong tampil cepat, tetapi setelah menemukan ritme, ia merasa nyaman. Zverev kini menjadi satu dari tiga unggulan 10 besar yang tersisa, bersama Casper Ruud dan Andrey Rublev.
Dengan tiga kemenangan straight set dari empat pertandingan, Zverev menghemat energi fisik dan mental. Sementara itu, lawan-lawannya di perempat final, seperti Jodar, harus melalui pertarungan lima set. Jika Zverev mampu mempertahankan performa ini, bukan tidak mungkin ia akhirnya memecahkan kutukan Grand Slam yang telah membayangi kariernya selama bertahun-tahun. Pertanyaannya, akankah ia mampu memanfaatkan peluang emas ini?



