Kebangkitan Berrettini: Tiga Petenis Italia Tembus Perempat Final Grand Slam untuk Pertama Kalinya
Baca dalam 60 detik
- Matteo Berrettini, yang sempat terpuruk akibat cedera, kembali ke perempat final Grand Slam setelah hampir empat tahun dan menjadi salah satu dari tiga wakil Italia di babak delapan besar Prancis Terbuka.
- Pencapaian tiga petenis Italia sekaligus di perempat final turnamen mayor ini merupakan yang pertama di era Open, meskipun tanpa kehadiran petenis nomor satu dunia Jannik Sinner.
- Dominasi Italia di Roland Garros tahun ini menandai kebangkitan tenis Negeri Pizza, dengan Berrettini dan Arnaldi yang akan saling berhadapan untuk memastikan satu tempat di semifinal.

Matteo Berrettini kembali menemukan cinta sejatinya di lapangan tanah liat Paris. Petenis berusia 30 tahun itu memastikan tempat di perempat final Grand Slam untuk pertama kalinya dalam hampir empat tahun, setelah menaklukkan Juan Manuel Cerundolo dengan skor 6-3, 7-6 (7-2), 7-6 (8-6). Kemenangan ini tidak hanya menjadi tonggak kebangkitan pribadi, tetapi juga mengukir sejarah baru bagi tenis Italia: untuk pertama kalinya di era Open, tiga petenis Negeri Pizza melaju ke babak delapan besar turnamen mayor secara bersamaan.
Flavio Cobolli, unggulan kesepuluh, dan Matteo Arnaldi melengkapi trio Italia yang mendominasi babak keempat. Cobolli melewati perlawanan sengit Zachary Svajda dalam empat set, sementara Arnaldi harus bertarung lebih dari lima jam untuk menjungkalkan unggulan ke-19 Frances Tiafoe. Hasil ini menjadi kejutan besar mengingat petenis nomor satu dunia Jannik Sinner sudah tersingkir di putaran kedua. Kini, perempat final akan mempertemukan Berrettini dengan Arnaldi, memastikan setidaknya satu petenis Italia—dan satu pemain di luar 100 besar—akan melaju ke semifinal.
Bagi Berrettini, perjalanan kembali ke panggung utama Grand Slam terasa begitu panjang. Finalis Wimbledon 2021 ini pernah mencapai peringkat enam dunia pada 2022, sebelum cedera beruntun membuatnya terlempar ke peringkat 105. Dalam wawancara usai pertandingan, ia mengaku tenis adalah cinta dalam hidupnya. “Setelah semua kemunduran, cedera, dan momen buruk, saya kembali lagi. Ada saat-saat di mana sangat sulit untuk kembali bermain karena saya tidak siap dan tidak yakin dengan kepercayaan diri saya—sekarang saya merasa hebat,” ujarnya.
Pencapaian Berrettini juga menempatkannya sebagai petenis dengan peringkat terendah yang mencapai perempat final Roland Garros sejak Igor Andreev pada 2007. Sebelumnya, ia harus menyelamatkan dua match point di babak sebelumnya dalam pertandingan terlama sepanjang kariernya yang berdurasi lima jam 16 menit. Melawan Cerundolo, Berrettini tampil tanpa kelelahan berarti: ia melesat di set pertama, memenangi tie-break di set kedua, dan bangkit dari ketertinggalan 3-5 di set ketiga untuk memenangi tie-break dengan menyelamatkan tiga match point.
Di sisi lain, Felix Auger-Aliassime, unggulan keempat asal Kanada, juga melaju mulus setelah mengalahkan Alejandro Tabilo 6-3, 7-5, 6-1. Auger-Aliassime, yang belum pernah melewati putaran keempat di Roland Garros sebelumnya, tampil dominan meskipun Tabilo di atas kertas lebih segar setelah mendapatkan bye di putaran kedua. “Sejak usia 12 atau 13 tahun, bermimpi untuk mencapai tahap ini. Saya sangat senang mendapat dukungan Anda dan berharap terus mendapatkannya hingga akhir,” kata Auger-Aliassime dalam bahasa Prancis. Ia akan berhadapan dengan Cobolli di perempat final.
Cobolli sendiri nyaris tersungkur melawan Svajda. Setelah unggul dua set langsung, ia kehilangan set ketiga melalui tie-break. Di set keempat, Cobolli sempat unggul 4-0, tetapi Svajda bangkit dan memaksakan tie-break lagi. Namun, Cobolli akhirnya menang 7-6 (7-5) untuk mencapai perempat final Grand Slam keduanya. “Satu hal yang saya pahami hari ini adalah pertandingan belum selesai sampai benar-benar selesai,” ujarnya.
Dominasi Italia di Roland Garros tahun ini menjadi sinyal kebangkitan tenis negara tersebut. Dengan absennya Sinner, tiga petenis lain justru tampil di luar dugaan. Pertanyaan selanjutnya: akankah salah satu dari mereka mampu menembus semifinal dan mungkin lebih jauh lagi? Jawabannya akan mulai terlihat saat Berrettini dan Arnaldi saling berhadapan dalam duel saudara setanah air.



