Visa Bermasalah, Timnas Afrika Selatan Terlambat Berangkat ke Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Menteri Olahraga Afrika Selatan mengecam kegagalan pengurusan visa yang menunda keberangkatan timnas ke Piala Dunia.
- Kesalahan administrasi ini memicu kemarahan publik dan mempertanyakan profesionalisme federasi sepak bola setempat.
- Kejadian serupa pernah menimpa timnas Indonesia, menyoroti pentingnya manajemen logistik yang matang.

Menteri Olahraga Afrika Selatan, Gayton McKenzie, melontarkan kritik pedas terhadap federasi sepak bola negaranya setelah timnas Bafana Bafana gagal berangkat tepat waktu ke Meksiko akibat masalah visa. Dalam pernyataannya, McKenzie menegaskan bahwa negaranya dipermalukan di mata dunia oleh kekacauan birokrasi yang seharusnya bisa dihindari.
McKenzie mendesak Asosiasi Sepak Bola Afrika Selatan (Safa) untuk segera memberikan penjelasan dan mengambil tindakan tegas terhadap pihak yang bertanggung jawab. “Ini memalukan dan sangat tidak adil bagi para pemain dan staf pelatih,” tulisnya di media sosial X. Safa sendiri hanya mengakui adanya “tantangan terkait visa” tanpa merinci lebih lanjut, sementara penyiar nasional SABC menyebut insiden ini sebagai “kecerobohan administratif.”
Bafana Bafana dijadwalkan menjalani laga uji coba melawan Jamaika pada Jumat pekan ini, sebelum bertanding di laga pembuka Piala Dunia melawan tuan rumah Meksiko pada 11 Juni. Turnamen tahun ini untuk pertama kalinya digelar bersama oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Selain itu, tim juga harus mengurus visa Amerika Serikat karena mereka akan bermain di Atlanta, Georgia, pada pertandingan kedua melawan Republik Ceko.
Upaya darurat dilakukan pada hari Minggu untuk mendapatkan visa AS bagi seluruh rombongan. Departemen Hubungan Internasional pemerintah ikut turun tangan. Hasilnya, McKenzie mengonfirmasi bahwa semua pemain akhirnya mendapat izin perjalanan dan akan berangkat dengan penerbangan carter pada Senin. Namun, empat staf pendukung—asisten pelatih, dokter tim, kepala keamanan, dan seorang analis—masih menunggu visa mereka.
Kekacauan ini terjadi di saat performa Bafana Bafana sedang tidak meyakinkan. Pada laga kandang terakhir mereka, Jumat lalu, tim hanya bermain imbang 0-0 melawan Nikaragua dan gagal memanfaatkan penalti. Hasil itu memperpanjang rekor tanpa kemenangan menjadi empat pertandingan berturut-turut. Bagi Afrika Selatan, turnamen ini menjadi ajang pembuktian setelah terakhir kali tampil di Piala Dunia saat menjadi tuan rumah pada 2010.
Insiden visa ini mengingatkan pada masalah serupa yang pernah dialami timnas Indonesia. Pada tahun 2023, skuad Garuda sempat terkendala visa saat akan bertanding di luar negeri, yang akhirnya mengganggu persiapan dan citra sepak bola nasional. Pelajaran dari Afrika Selatan menunjukkan bahwa kegagalan logistik bukan hanya soal teknis, tetapi juga menyangkut harga diri bangsa di pentas internasional.
Ke depannya, Safa harus melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengurusan perjalanan tim. Jika tidak, risiko serupa bisa terulang dan merusak peluang tim yang telah bekerja keras untuk lolos ke Piala Dunia. Pertanyaan besarnya: apakah federasi sepak bola Afrika Selatan mampu memperbaiki tata kelola sebelum turnamen dimulai?



