Gunung Semeru Kembali Erupsi: Kolom Abu Membumbung 1 Kilometer, Status Siaga Diperpanjang
Baca dalam 60 detik
- Gunung Semeru meletus Sabtu petang dengan kolom abu setinggi 1 km di atas puncak, terekam seismograf dengan amplitudo 22 mm selama 171 detik.
- Status Siaga (Level III) masih berlaku; masyarakat dilarang beraktivitas di radius 5 km dari kawah dan sepanjang aliran sungai Besuk Kobokan hingga 17 km.
- Erupsi ini merupakan yang ketiga dalam sehari, menandakan aktivitas vulkanik yang masih tinggi dan perlu diwaspadai oleh warga di lereng Semeru.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7365685/original/069583000_1780146343-WhatsApp-Image-2026-05-30-at-19.29.41-1.jpeg)
Gunung Semeru, gunung tertinggi di Pulau Jawa, kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya dengan erupsi yang menghasilkan kolom abu setinggi satu kilometer di atas puncak pada Sabtu (30/5) sore. Letusan yang terjadi pukul 16.57 WIB ini terekam jelas oleh seismograf dengan amplitudo maksimum 22 milimeter dan durasi 171 detik, menandakan energi yang cukup besar.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Mukdas Sofian, melaporkan bahwa kolom abu berwarna putih hingga kelabu terlihat membumbung tebal ke arah barat. Erupsi ini merupakan yang ketiga kalinya dalam sehari, setelah dua letusan sebelumnya pada pukul 01.04 WIB dan 04.53 WIB tidak teramati secara visual. Meskipun demikian, aktivitas vulkanik yang terus berlangsung menunjukkan bahwa gunung berstatus Siaga (Level III) masih dalam fase tidak stabil.
Bagi masyarakat yang tinggal di sekitar Semeru, terutama di Kabupaten Lumajang dan Malang, erupsi ini menjadi pengingat akan bahaya yang mengintai. Pemerintah melalui PVMBG telah mengeluarkan rekomendasi tegas: tidak ada aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga jarak 13 kilometer dari puncak. Selain itu, warga diminta menjauhi tepi sungai di sepanjang aliran yang sama hingga radius 500 meter, karena potensi perluasan awan panas dan aliran lahar bisa mencapai 17 kilometer.
Mukdas juga menekankan bahwa potensi bahaya tidak hanya terbatas pada awan panas dan lontaran batu pijar. Aliran lahar dingin yang mengikuti sungai-sungai seperti Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, serta anak-anak sungainya, perlu diwaspadai. Masyarakat diimbau untuk selalu memantau informasi resmi dari Pos Pengamatan Gunung Semeru dan tidak mudah percaya pada rumor yang tidak jelas sumbernya.
Bagi Indonesia, erupsi Semeru bukan sekadar bencana lokal. Gunung ini merupakan salah satu dari 127 gunung api aktif di tanah air, dan setiap letusan selalu menjadi perhatian nasional karena dampaknya terhadap penerbangan, pertanian, dan keselamatan jiwa. Status Siaga yang bertahan lama juga menguji kesiapsiagaan pemerintah daerah dalam merespons evakuasi dan logistik.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah aktivitas Semeru akan meningkat ke Level Awas (Level IV) atau justru mereda. Masyarakat dan pemerintah harus terus bersiaga, mengingat sejarah erupsi besar Semeru pada Desember 2021 lalu yang menelan korban jiwa. Kesiapan jalur evakuasi dan posko pengungsian menjadi kunci untuk mengurangi risiko.



