Film Laris 'Dear You' Ubah Desa-Desa China Jadi Ikon Wisata, tapi Tidak Semua Warga Senang
Baca dalam 60 detik
- Film berbahasa Teochew 'Dear You' meraup hampir 2 miliar yuan di Tiongkok dan memicu lonjakan wisatawan diaspora ke wilayah Chaoshan.
- Desa Xiqi dan Yangqi mengambil pendekatan berbeda dalam menyikapi banjir pengunjung: satu menggenjot infrastruktur, satu mempertahankan keaslian.
- Euforia mulai mereda, menimbulkan pertanyaan apakah lonjakan ini bisa bertahan atau hanya musiman.

Film drama keluarga berbahasa Teochew, Dear You, yang dirilis April lalu di Tiongkok, tak hanya menjadi fenomena box office dengan pendapatan hampir 2 miliar yuan, tetapi juga mengubah peta pariwisata di wilayah Chaoshan, Guangdong. Ribuan pengunjung, terutama keturunan perantau Teochew dari Asia Tenggara, kini berduyun-duyun ke desa-desa yang menjadi lokasi syuting untuk menelusuri jejak leluhur mereka.
Kisah film yang berlatar migrasi massal tahun 1940-an ini sukses membangkitkan rasa nostalgia dan keinginan pulang kampung dari diaspora Teochew di Singapura, Malaysia, dan Thailand. Data dari Trip.com Group menunjukkan penerbangan dari Singapura ke Bandara Internasional Jieyang Chaoshan naik 23 persen pada periode 18 Juni–19 Juli dibanding tahun lalu. Sementara dari Malaysia, kenaikannya mencapai 6 persen.
Namun, di balik gemerlapnya dampak ekonomi, terdapat cerita beragam dari warga setempat. Ada yang menikmati rezeki nomplok, ada pula yang merasa terusik. Dua desa tetangga di Jieyang, Xiqi dan Yangqi, menjadi contoh kontras dalam menyikapi gelombang wisatawan ini.
Xiqi, desa pertanian berpenduduk 11.400 jiwa, bergerak cepat. Pemerintah desa menginvestasikan beberapa juta yuan untuk memperlebar jalan, memperbaiki drainase, dan membangun area parkir. Sekretaris desa Chen Youkun mengakui film ini mempercepat rencana pengembangan agrowisata yang sudah ada. Sebaliknya, Yangqi memilih pendekatan berbeda. Di bawah pohon beringin raksasa yang menjadi latar adegan romantis film, kehidupan desa berjalan lambat. Ayam masih berkeliaran di jalanan tanah. Yang Weisen, penggiat revitalisasi budaya desa, menekankan bahwa keaslian adalah daya tarik utama—dan mereka ingin menjaganya, bukan mengubah desa menjadi taman tema.
Bagi warga biasa, dampaknya terasa nyata meski tak merata. Chen Hanlong, 60 tahun, mulai berjualan minuman dan menyewakan properti kain sutra khas film di Xiqi. Ia membiarkan pengunjung membayar seikhlasnya, mulai 1,5 hingga 10 yuan. Pendapatannya cukup untuk biaya sehari-hari. Namun, tidak semua bisnis lokal merasakan keuntungan. Di Jalan Pandai Besi Mianhu yang berusia berabad-abad, pengunjung datang hanya untuk berfoto, bukan membeli peralatan pertanian yang dijual. Li Shaoxiong, 58 tahun, menyayangkan bahwa jalan itu berubah dari 'datie' (pandai besi) menjadi 'daka' (foto).
Kekhawatiran juga muncul dari rumah pribadi yang dijadikan lokasi syuting. Di Desa Tangxi, sebuah bangunan bergaya Nanyang yang digunakan untuk latar Thailand kini dipenuhi tanda peringatan bahwa properti itu bersifat privat. Penjaga rumah, Zheng Zhouqiang, mengeluh bisnis tehnya menurun karena pelanggan enggan datang akibat keramaian. Sebaliknya, di Chenghai, Shantou, seorang penjaga rumah tua berusia 66 tahun, Zhang Mian, justru membuka pintu bagi pengunjung yang datang dari jauh, terinspirasi semangat film tentang kesetiaan dan kebaikan.
Bagi para pengunjung diaspora, perjalanan ini lebih dari sekadar wisata. Lee Mei Ha, 53 tahun, dari Malaysia, mengatakan bahwa film ini membangkitkan emosi tentang kampung halaman yang ditinggalkan. "Anak muda bisa melihat dan memahami bagaimana kakek nenek mereka dulu hidup," ujarnya. Zeng Jianpeng, salah satu pendiri Asosiasi Relawan Chaozhou untuk Reunifikasi Keluarga Tionghoa Perantauan, menekankan bahwa perubahan sejati bukan hanya tentang lalu lintas jangka pendek, melainkan apakah perhatian ini bisa menjadi pelestarian budaya yang langgeng.
Namun, euforia mulai mereda. Di Xiqi, jumlah pengunjung menipis, dan pedagang musiman mulai mengurangi aktivitas. Fang Sanmei, penjual jus jambu dan tebu, mengaku penghasilannya tak menentu—200–300 yuan di hari ramai, hanya beberapa yuan di hari sepi. Ia tetap santai: "Kalau mau jualan, saya jualan. Kalau tidak mau, saya di rumah minum teh."
Pertanyaan besarnya: apakah ledakan wisata ini hanya musiman, atau bisa menjadi fondasi pariwisata berkelanjutan? Desa Xiqi berambisi meraih status pemandangan AAA, sementara Yangqi bertahan dengan kearifan lokal. Bagi pejabat desa Xiqi, Chen Youbo, yang terpenting adalah lingkungan desa menjadi lebih bersih dan indah. "Setidaknya kami benar-benar mendapatkan sesuatu," katanya. Namun, tanpa strategi jangka panjang, desa-desa lain mungkin akan bernasib seperti Jalan Pandai Besi—populer untuk difoto, namun tak pernah benar-benar bangkit.
