Trump Hujat Media dan Bergurau soal Masa Jabatan Ketiga di Makan Malam Wartawan
Baca dalam 60 detik
- Presiden AS Donald Trump melontarkan kritik pedas terhadap media dan kembali mengeluarkan candaan soal masa jabatan ketiga yang dilarang konstitusi dalam acara tahunan White House Correspondents' Dinner yang dijadwalkan ulang.
- Gelaran yang sempat tertunda akibat percobaan pembunuhan pada April lalu itu digelar dengan pengamanan superketat dan venue lebih intim di Waldorf Astoria, bekas hotel Trump.
- Kepala Dinas Rahasia AS Sean Curran mengakui tingkat ancaman terhadap pejabat tinggi saat ini mencapai level tertinggi yang pernah ia lihat, mengindikasikan krisis keamanan politik yang belum mereda.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melancarkan serangan verbal terhadap jurnalis yang ia sebut sebagai "media berita palsu" dan melontarkan lelucon kontroversial mengenai kemungkinan menjabat untuk periode ketiga yang dilarang konstitusi, saat berbicara di hadapan para wartawan dalam jamuan tahunan White House Correspondents' Association (WHCA) yang akhirnya digelar Jumat malam pekan lalu. Acara yang sedianya berlangsung April lalu itu dijadwalkan ulang setelah insiden percobaan pembunuhan yang mengakibatkan evakuasi massal.
Dalam pidato yang berlangsung sekitar satu jam di Waldorf Astoria, Washington DC, Trump memulai dengan nada agak damai dengan mengenang kembali peristiwa penembakan yang memaksanya dievakuasi. Namun, ia segera beralih ke gaya khasnya: menyerang berbagai musuh politik, dari wartawan hingga Partai Demokrat. "Tempat ini benar-benar kumpulan terbesar orang dengan sindrom Trump derangement yang pernah terkumpul dalam satu waktu," ujarnya, disambut campuran tawa dan cemoohan dari hadirin.
Salah satu momen paling mencolok adalah ketika Trump mengeluarkan topi merah bertuliskan 'Trump 2028' dan bercanda bahwa ia berniat mencalonkan diri untuk masa jabatan keempat. "Sama seperti kepresidenan saya, yang kedua selalu lebih baik. Dan yang ketiga lebih baik lagi," katanya, lalu menambahkan, "Saya hanya bercanda." Meskipun ia mengklaim hanya bercanda, pernyataan itu memicu perdebatan mengenai komitmennya pada konstitusi. Di bawah Amandemen ke-22, tidak ada seorang pun boleh dipilih menjadi presiden lebih dari dua kali.
Perubahan venue dari Hilton ke Waldorf Astoria โ yang sebelumnya merupakan properti milik Trump โ membuat acara lebih kecil dan "lebih intim" menurut panitia. Pengamanan diperketat dengan pengalihan jalan dan penjagaan polisi serta Garda Nasional, meskipun para tamu hanya melalui pemeriksaan cepat. Kepala Dinas Rahasia AS, Sean Curran, membela prosedur keamanan pada acara sebelumnya dengan mengatakan "sistem berhasil" karena pelaku tidak berhasil memasuki ruang utama. Namun, ia mengakui bahwa ancaman terhadap pejabat tinggi saat ini berada pada level tertinggi. "Lingkungan ancaman sebesar yang pernah saya lihat," ujarnya.
Acara ini juga menjadi ajang penegasan kembali komitmen pers terhadap kebebasan meliput. Weijia Jiang, presiden WHCA yang keluar, menyatakan, "Kami kembali. Kami tidak akan terintimidasi. Kami tidak akan membiarkan aksi kekerasan menjadi kata akhir." Pidato Trump yang sering terkesan seperti kampanye rapat umum itu diakhiri dengan pernyataan bernada sinis: "Ketika saya pergi, kalian semua akan bangkrut."
Konteks Indonesia
Meskipun berjarak ribuan kilometer, retorika Trump yang tak henti menyerang media dan melemahkan kepercayaan publik pada pers memberikan pelajaran bagi Indonesia. Di tengah maraknya disinformasi dan tekanan terhadap jurnalis independen, pernyataan seperti "fake news" dari tokoh global berpotensi memperkuat narasi anti-pers di dalam negeri. Lembaga pers Indonesia perlu mewaspadai efek domino dari pelemahan kebebasan pers di negara-negara besar, apalagi dengan makin kuatnya arus populisme yang kerap menjadikan media sebagai musuh.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah tradisi tahunan WHCA akan kembali ke bentuk normalnya tahun depan, ataukah hubungan antara Gedung Putih dan pers akan semakin renggang. Dengan Trump yang berulang kali mengancam akan memboikot acara serupa, namun kini malah berjanji hadir lagi, publik menanti apakah ini awal dari dรฉtente atau sekadar gimik politik belaka.



