Montella Bawa Turki ke Piala Dunia 2026: Mimpi yang Terwujud
Baca dalam 60 detik
- Vincenzo Montella sukses mengakhiri puasa 24 tahun Turki tanpa tampil di Piala Dunia setelah memimpin tim lolos ke edisi 2026.
- Pelatih asal Italia itu menyebut skuad Turki saat ini sarat talenta muda dan solid, dengan mentalitas pantang menyerah sebagai kunci utama.
- Di Grup D, Turki akan menghadapi Australia, Paraguay, dan tuan rumah Amerika Serikat; Montella menargetkan lolos dari fase grup sebagai langkah awal.
Vincenzo Montella, pelatih asal Italia yang akrab disapa L'Aeroplanino, berhasil membawa Turki kembali ke panggung Piala Dunia setelah absen selama 24 tahun. Keberhasilan ini menjadi pencapaian besar bagi Montella dan negaranya, sekaligus mengobati kerinduan publik Turki yang terakhir kali merasakan atmosfer turnamen terbesar sepak bola pada 2002.
Montella, yang pernah membela Italia di Piala Dunia 2002, mengaku bahwa pengalaman pahit saat tersingkir oleh Korea Selatan di babak 16 besar masih membekas. Namun, kini ia memiliki kesempatan untuk menulis cerita baru sebagai pelatih. Dalam wawancara eksklusif dengan FIFA, ia menegaskan bahwa skuad Turki saat ini dipenuhi talenta muda dan memiliki chemistry yang kuat. "Para pemain sangat kompak dan saling mendukung. Menjadi pelatih mereka adalah suatu kehormatan," ujarnya.
Turki tergabung di Grup D bersama Australia, Paraguay, dan tuan rumah Amerika Serikat. Montella menyadari bahwa tidak ada lawan yang mudah, meskipun grup ini tidak dihuni raksasa seperti Spanyol atau Argentina. Ia menekankan pentingnya konsistensi dan mentalitas yang tepat. "Kami harus melangkah selangkah demi selangkah. Target pertama adalah lolos dari fase grup," tegasnya.
Montella juga menyoroti peran penting mentalitas dalam perjalanan Turki menuju Piala Dunia. Ia memuji ketangguhan mental anak asuhnya, terutama saat mengalahkan Rumania 1-0 di semifinal play-off. "Kemenangan tipis dengan clean sheet menunjukkan semangat tim dan kemampuan bertahan yang solid. Itu adalah hasil kerja keras dan sikap yang benar," katanya.
Bagi Montella, kedekatan budaya antara Italia dan Turki menjadi faktor yang memudahkan adaptasinya. Ia merasa diterima seperti keluarga dan menganggap nilai-nilai hormat dan kebanggaan sangat mirip dengan kampung halamannya di Naples. "Saya telah memberikan segalanya untuk tim ini. Hasilnya juga berkat kelompok pemain yang berbakat," ungkapnya.
Montella mengakui bahwa kembali ke Piala Dunia sebagai pelatih terasa berbeda. Tanggung jawab dan kesadaran yang diembannya jauh lebih besar. Namun, ia tetap optimistis dan mengingatkan bahwa timnya harus tetap rendah hati. "Bermimpi itu penting, tetapi kaki harus tetap di tanah. Tim Turki 2002 adalah underdog yang berhasil melaju hingga semifinal. Kami ingin mengulangi sejarah itu," pungkasnya.
Dengan semangat kebangkitan yang kuat, Turki siap bersaing di panggung dunia. Pertanyaan besarnya: akankah Montella mampu membawa timnya melampaui capaian 2002?



